Analis Sebut Bitcoin Perlu Ditutup di Atas US$ 85.000 Tiap Minggunya untuk Hindari Koreksi ke US$ 76.000
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto tengah berada dalam fase yang tak menentu, dengan Bitcoin berjuang mempertahankan level psikologisnya. Analis memperingatkan bahwa harga Bitcoin dapat mengalami penurunan lebih lanjut jika tak mampu menutup perdagangan mingguan di atas US$ 85.000.
Kepala Analis di Bitget Research Ryan Lee menekankan pentingnya level ini untuk menjaga momentum bullish Bitcoin usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dan laporan inflasi Amerika Serikat (CPI) yang lebih rendah.
“Kenaikan Bitcoin setelah pertemuan FOMC dan pembacaan CPI yang lebih rendah membuat para analis mengamati penutupan mingguan di atas US$ 85.000,” ujarnya, dilansir dari Cointelegraph, Senin (24/3/2025).
“Penutupan di atas level ini dapat mencegah penurunan ke US$ 76.000 dan memberi sinyal kekuatan, sementara US$ 87.000 akan memberikan konfirmasi bullish yang lebih jelas. Faktor makro seperti suku bunga yang stabil dan inflasi yang mereda mendukung aset berisiko,” sambung Ryan.
Baca Juga
Manfaatkan Kelebihan Listrik, Pakistan Mau Tambang Bitcoin Besar-besaran
Jika melirik data CoinMarketCap, Senin (24/3/2025) ini, harga Bitcoin kini berada di level US$ 86.963,87 atau naik 4,47% selama seminggu terakhir. Jika Bitcoin gagal mempertahankan level penting tersebut, pasar berisik melihat harga kembali ke titik terendah minggu sebelumnya di US$ 76.000.
Di tengah fluktuasi harga jangka pendek, para analis menekankan pentingnya akumulasi Bitcoin oleh pemegang jangka panjang sebagai indikator tren pasar.
”Pemegang jangka panjang terus menumpuk, seperti yang telah kita lihat dalam data on chain, akumulasi oleh pemegang ini yang diam-diam terbentuk sejak penurunan adalah hal yang harus kita perhatikan,” kata analis pasar di platform tokenisasi real world asset (RWA) Brickken yakni Enmanuel Cardozo.
Baca Juga
Bitcoin Masih Bertahan di Atas US$ 80.000, CEO Indodax: Investor Masih Optimis
Sementara, data dari Glassnode menunjukkan bahwa sejak awal Februari, pemegang jangka panjang telah membeli Bitcoin senilai lebih dari US$ 21 miliar. Total pasokan Bitcoin yang dimiliki oleh kelompok ini meningkat lebih dari 250.000 Bitcoin dalam waktu kurang dari dua bulan dari 13,1 juta Bitcoin pada 11 Februari menjadi lebih dari 13,3 juta Bitcoin pada 22 Maret.
Selain faktor teknikal dan akumulasi pemegang jangka panjang, kondisi makroekonomi juga menjadi perhatian utama pasar. Suku bunga yang stabil dan inflasi yang mereda cenderung mendukung aset berisiko seperti Bitcoin.
Namun, ketidakpastian global akibat potensi perang dagang dan kebijakan tarif masih menjadi faktor tekanan. Analis riset di Nansen yaitu Nicolai Sondergaard menilai, sentimen pasar masih akan dibayangi oleh kekhawatiran tarif global setidaknya hingga 2 April.
Jika faktor makro ini terus membebani pasar, Bitcoin bisa kesulitan mempertahankan momentum positifnya dalam beberapa pekan mendatang.

