Ethereum Masih Dalam Tekanan, Bitcoin Berjuang Keras Bangkit
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto mengalami penurunan tajam dengan mayoritas aset digital berada di zona merah dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, Bitcoin (BTC) sempat turun ke level US$ 82.000-an, sementara Ethereum (ETH) anjlok ke US$ 2.200-an.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Jumat (28/2/2025) pukul 07.20 WIB, kapitalisasi pasar kripto global mulai merangkak naik 1,36% menjadi US$ 84.361 triliun dalam 24 jam. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, BTC juga mencoba berbalik arah dengan kenaikan tipis 0,24% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 84.467 per koin. Sedangkan, ETH dan XRP masih dalam tekanan dengan turun masing-masing 1,52% ke US$ 2.306 dan 0,67% ke US$ 2,18.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menyebut bahwa koreksi ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi, arus keluar besar dari ETF, serta
dampak peretasan yang menimpa platform Bybit. Salah satu faktor utama yang menekan pasar adalah ketidakpastian makroekonomi, khususnya
kebijakan moneter The Fed. Inflasi di Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dari ekspektasi, mencapai 3% secara tahunan (YoY), memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Selain itu, kebijakan tarif baru yang diumumkan mantan Presiden Donald Trump terhadap Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa semakin memperparah sentimen negatif di pasar keuangan global, termasuk aset kripto,” kata Fyqieh dalam risetnya, dikutip Jumat (28/2/2025).
Tekanan jual juga diperburuk oleh arus keluar besar dari ETF Bitcoin dan Ethereum. Pada 25 Februari, ETF Bitcoin mencatat rekor arus keluar harian terbesar sebesar US$ 1,13 miliar, diikuti tambahan US$ 336,5 juta pada 26 Februari. ETF Ethereum juga mengalami arus keluar sebesar US$ 24,5 juta. Hal ini menunjukkan bahwa investor institusional mulai mengurangi eksposur mereka terhadap aset kripto.
“Pasar derivatif kripto turut mengalami tekanan besar dengan total likuidasi mencapai US$ 764,32 juta dalam 24 jam terakhir. Bitcoin Futures menjadi sektor yang paling terdampak dengan likuidasi sebesar US$ 459 juta, memicu aksi jual lebih lanjut di pasar spot,” jelas Fyqieh.
Baca Juga
CFX dan Aspakrindo-ABI Kompak Sebut Tren Adopsi Kripto di Indonesia ke Depan Makin Meningkat
Selain faktor makroekonomi dan tekanan institusional, pasar kripto juga terguncang oleh peretasan besar yang menimpa Bybit. Serangan siber senilai US$ 1,5 miliar ini menimbulkan kepanikan di kalangan investor, yang bereaksi dengan menarik dana dalam jumlah besar dari bursa.
Investigasi forensik mengungkap bahwa kredensial pengembang infrastruktur Safe(Wallet) telah dikompromikan, memungkinkan peretas mengambil alih aset digital pengguna. Beberapa entitas besar seperti Galaxy Digital bahkan menarik 25.000 ETH senilai US$ 67 juta dan 700 BTC senilai US$ 68,8 juta akibat kejadian ini.
Perkiraan Pergerakan BTC dan ETH
Fyqieh memperkirakan bahwa tekanan jual yang masih tinggi dapat membawa harga Bitcoin turun ke level support berikutnya di US$ 80.000. Jika aksi jual terus berlanjut, BTC berpotensi melemah lebih dalam ke kisaran US$ 75.000 – 78.000 sebelum mengalami pemulihan.
Sementara itu, Ethereum (ETH) juga berisiko mengalami penurunan lebih lanjut. Jika aksi jual tidak mereda, harga ETH berpotensi turun ke level US$ 2.000 dalam beberapa hari ke depan, dengan support berikutnya berada di kisaran US$ 1.850 – 1.950.
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, Fyqieh menyarankan investor untuk menerapkan strategi yang lebih disiplin. Bagi trader jangka pendek, disarankan untuk menghindari penggunaan leverage tinggi karena volatilitas yang masih tinggi dapat memicu likuidasi lebih lanjut.
“Memantau level support utama Bitcoin di US$ 80.000 dan Ethereum di US$ 2.000 dapat membantu dalam mencari peluang beli jika muncul tanda-tanda pembalikan tren. Selain itu, penggunaan stop loss yang ketat sangat dianjurkan guna membatasi risiko,” ungkapnya.
Sementara itu, investor jangka panjang dapat mempertimbangkan strategi akumulasi bertahap (DCA) di area support kuat seperti BTC di US$ 80.000 dan ETH di US$ 2.000. Memantau arus masuk kembali ke ETF Bitcoin dan Ethereum juga bisa menjadi indikator potensi pemulihan pasar.
Selain itu, investor perlu terus mencermati kebijakan The Fed serta kebijakan perdagangan yang diumumkan oleh Trump, karena kedua faktor ini masih menjadi pemicu utama volatilitas di pasar. Langkah mitigasi dari Bybit terhadap peretasan juga patut diperhatikan guna mengantisipasi dampak lanjutan pada pasar kripto. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas serta mengatur strategi investasi dengan lebih berhati-hati.
Baca Juga
Standard Chartered Revisi Target Harga Bitcoin Dalam Jangka Pendek, Jadi Berapa?
Di sisi lain melansir Cryptonews, para pemimpin industri kripto tetap tenang menghadapi gejolak pasar. Tokoh veteran seperti Changpeng Zhao (CZ) dan Richard Teng menegaskan bahwa volatilitas adalah bagian alami dari aset yang masih dalam tahap pertumbuhan.
CZ meyakinkan para investor bahwa penurunan harga Bitcoin bersifat sementara. Dalam unggahan di media sosial X pada 26 Februari, ia menulis: "Tidak perlu panik, Bitcoin tidak akan mati," tulis mantan CEO Binance itu.
Sementara itu, CEO Binance saat ini Richard Teng, juga mengomentari volatilitas harga Bitcoin. Menurutnya, penurunan ini hanyalah koreksi taktis jangka pendek, bukan indikasi penurunan struktural. "Pergerakan harga seringkali membayangi fundamental yang sebenarnya terjadi. Namun, pendorong utama pertumbuhan kripto tetap kuat," tulisnya di X.
Teng menyoroti minat institusional, aktivitas ETF Bitcoin, dan peningkatan jumlah pengguna Binance sebagai faktor yang mendukung optimisme jangka panjang.
Meskipun demikian, ETF Bitcoin di AS mencatat arus keluar terbesar dalam satu hari, dengan penarikan mencapai US$ 938 juta pada 25 Februari. Dalam enam hari terakhir, total dana yang keluar dari ETF Bitcoin mencapai lebih dari US$ 2 miliar.
Penurunan 20% dari puncaknya dianggap sebagai pola umum bagi Bitcoin, yang dikenal dengan pergerakan harga yang fluktuatif. Setiap reli besar Bitcoin sebelumnya selalu disertai dengan beberapa koreksi tajam, mengajarkan investor berpengalaman untuk membedakan antara volatilitas biasa dan kejatuhan pasar yang sesungguhnya.
Baik CZ maupun Teng telah menyaksikan Bitcoin pulih dari penurunan lebih besar, termasuk beberapa kali anjlok hingga lebih dari 80%. Apakah ini hanya jeda dalam tren naik atau sinyal awal pergeseran pasar baru, hanya waktu dan data lebih lanjut yang bisa menjawabnya.

