Implementasi DEFA Dorong Ekonomi Digital ASEAN Tembus Rp 5.029,2 Triliun Tahun 2025
JAKARTA, investortrust.id – ASEAN menjadi kawasan dengan tingkat perekonomian terbesar kelima dan eksportir terbesar ke-4 dunia, dengan pertumbuhan ekonomi tinggi sekitar 5,6% pada 2022 berdasarkan data OECD. Dengan didukung pula implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), hal ini bakal mendorong perekonomian digital di kawasan Asia Tenggara meningkat tembus US$ 330 miliar atau Rp 5.029,2 triliun tahun 2025.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto di sela ASEAN Business and Investment Summit 2023, Jakarta (03/09/2023), usai pertemuan bilateral dengan Council Members dari ASEAN Business Advisory Council (BAC) Malaysia. “Proyeksi itu ditopang kawasan ASEAN memiliki sumber daya energi alami yang besar, sehingga dapat mendorong permintaan energi global. Itu merupakan keuntungan besar bagi ASEAN. Sebagai bagian dari sustainability, kita juga harus mendorong adanya carbon credit market di kawasan. Kemudian, pekerjaan rumah kita ke depan adalah mengembangkan industri hilir sebagai titik kunci dalam rantai pasok global,” kata Menko Perekonomian Airlangga dalam keterangan pers.
Airlangga menjelaskan, kawasan ASEAN berpotensi menjadi jangkar stabilitas perekonomian global. Sebab, kawasan ini terus menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan.
2023, Ekonomi Tumbuh 4,6%
Sepanjang 2023, lanjut Airlangga, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ASEAN akan berada di angka 4,6%, dan di 2024 diproyeksikan akan mencapai 4,8%. Pertumbuhan diperkirakan akan kembali ke tingkat sebelum pandemi dengan variasi antarnegara.
Pada sisi lain, inflasi regional diperkirakan akan melambat, namun tekanan harga akan bervariasi antarnegara pada 2023. Foreign direct investment (FDI) di bidang manufaktur di ASEAN telah meningkat dua kali lipat selama dekade terakhir, bahkan melampaui Tiongkok.
Baca Juga
Industri Elektronik, Kendaraan Listrik, dan Ekonomi Digital Angkat Pertumbuhan Ekonomi ASEAN
Karena itulah, menurut Airlangga, ASEAN perlu mengambil keputusan strategis yang berdampak. Bidang-bidang strategis yang pernah dibahas dalam Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN sebelumnya, antara lain, tentang bagaimana mendorong pertumbuhan lanskap kendaraan listrik ASEAN.
“Indonesia tertarik untuk melakukan hilirisasi sumber daya alam seperti nikel dan tembaga. Kami juga ingin memiliki fasilitas produksi baterai untuk kendaraan listrik,” ujar Airlangga.
Topik lain yang dibahas adalah penguatan hubungan perdagangan dan investasi regional. Selain itu, mendorong tindakan pembangunan berkelanjutan yang kolaboratif, misalnya dengan meluncurkan proyek energi ramah lingkungan seperti pembangkit listrik tenaga surya, dan menghubungkan ASEAN melalui alat strategis dan sistem pembayaran QR Regional.
“Nantinya, masyarakat Indonesia yang bepergian ke Malaysia, Thailand, Singapura maupun negara-negara ASEAN lainnya akan bisa melakukan pembayaran dengan QR. Kalau di Indonesia sendiri telah dipergunakan QRIS secara luas di banyak merchant. QRIS dikembangkan oleh Bank Indonesia, dan saat ini nilai transaksinya terus meningkat,” imbuh Menko Airlangga.
Menko Airlangga menuturkan bahwa fokus utama ASEAN-BAC adalah melakukan fasilitasi perdagangan, fasilitasi investasi, dan menarik FDI. Selain itu, mendorong terlaksananya prioritas-prioritas utama untuk memperkuat perdagangan dan investasi intra-ASEAN. Indonesia sendiri, lanjut dia, akan mempermudah proses customs dengan membuat sistem digital yang terintegrasi di antara kementerian/lembaga terkait atau biasa disebut e-goverment.
Indonesia Diapresiasi
Dalam pertemuan itu, delegasi Malaysia dipimpin oleh Deputy Chairman ASEAN-BAC Malaysia Tan Sri Tony Fernandes, dengan didampingi Council Member Lim Chern Yuan, Executive Director ASEAN-BAC Malaysia Jukhee Hong, serta perwakilan dari beberapa perusahaan besar Malaysia. Berbagai hal dibahas dalam pertemuan tersebut, antara lain tentang perdagangan dan sistem pembayaran lintasbatas, serta perkembangan kendaraan listrik (EV).
“Kami sangat excited soal ASEAN, soal Indonesia. Kami harus memuji Pemerintah Indonesia yang membuka mata kita semua bahwa Indonesia sangat progresif (dari sisi ekonomi), juga sangat terbuka serta transparan (dari sisi pemerintahan),” ungkap Tony.
Pertemuan ASEAN-BAC itu merupakan rangkaian dari kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN pada 5--7 Spetember 2023 di Jakarta Convention Center (JCC), Indonesia. Presiden RI Joko Widodo akan membuka KTT ke-43 ASEAN, sekaligus memimpin 12 pertemuan. Rangkaian pertemuan tersebut adalah KTT ke-43 dalam format plenary dan retreat, KTT ke-26 ASEAN-Tiongkok, KTT ke-24 ASEAN-Korea Selatan, KTT ke-26 ASEAN-Jepang, dan KTT ke-11 ASEAN-Amerika Serikat. Pertemuan lainnya adalah KTT ASEAN-Kanada, KTT ke-26 ASEAN Plus Three, KTT ke-20 ASEAN-India, KTT ke-3 ASEAN-Australia, KTT ke-18 Asia Timur (EAS), dan KTT ke-13 ASEAN-Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

