85 Emiten Raih Predikat “Best Stock Awards 2025”, Berikut Daftar Lengkapnya
JAKARTA, investortrust.id – Ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan berat bagi perjalanan pasar finansial global di sepanjang tahun 2024. Tingkat suku bunga yang tak kunjung turun di tengah kebijakan baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang dagang telah menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Pelemahan ekonomi juga dipicu kekhawatiran terhadap penurunan daya beli masyarakat Indonesia hingga kini.
Di tengah kondisi global yang kondisi global yang kurang kondusif, pasar modal Indonesia pun ikut terimbas sentimen negatif tersebut yang ditunjukkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 2,65% sepanjang 2024, bahkan pelemahan IHSG tercatat yang terbesar kedua setelah indek Kospi sebesar 9,63% sepanjang tahun lalu. Bahkan, year to date (ytd) hingga 25 Februari 2025, IHSG lanjutkan pelemahan telah mencapai 4,67%.
Baca Juga
Meski IHSG masih dirundung pergerakan trend bearish, sejumlah pelaku pasar tetap optimistis terhadap kinerja tahun ini didorong sejumlah kebijakan pemerintah untuk mangakselerasi pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui pembentukan Danantara yang diharapkan menggenjot investasi dan mempercepat gerak ekonomi. Prospek positif IHSG tahun ini juga akan didorong peluang berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan emiten tahun 2025 dan peluang pembagian dividen dengan yield masih menggiurkan.
Dilatari niat mendukung kinerja pasar modal Indonesia, Investortrust, sebuah portal data dan berita ekonomi independen yang fokus pada masalah bisnis, keuangan, investasi langsung, dan investasi portofolio, khususnya pasar modal menjalin kolaborasi dengan Infovesta, perusahaan data dan riset independen.
Kolaborasi investortrust dan Infovesta dilakukan dengan menggelar Best Stock Awards 2025. Acara apreasiasi emiten ini mengusung tema ‘’85 Indonesia Listed Companies,’’ yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 25 Februari 2025.
Pemimpin Redaksi investortrust Primus Dorimulu mengatakan, Best Stock Awards 2025 merupakan wujud apresiasi dan penghargaan investortrust dan Infovesta selaku stakeholders emiten atas kemampuan dalam meraih pertumbuhan kinerja fundamental, dan teknikal perusahaan di tengah kerasnya tantangan ekonomi.
‘’Kami harap Best Stock Awards 2025 juga bisa menjadi referensi dan informasi tambahan kepada pelaku pasar dan investor dalam mengidentifikasi saham mana saja yang paling berkualitas,’’ ulas Primus Dorimulu. Lebih lanjut dikatakan, saham-saham terbaik yang terpilih sebagai pemenang telah dilakukan seleksi sangat ketat, sehingga berpotensi terus menguat, bahkan saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil.
Indikator Perhitungan
Sebagai catatan, penilaian Best Stock Awards 2025 dilakukan terhadap 947 saham emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia hingga akhir Desember 2024.
Kenaikan harga saham periode Januari hingga desember 2024 menjadi basis perhitungan, selain itu tingkat likuditas saham emiten juga menjadi poin penting dalam menentukan pemenang Best Stock Awards 2025.
Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito membeberkan, sebelum melakukan perhitungan saham yang layak menjadi juara, pihaknya mengawali penilaian dengan menerapkan seleksi awal yang mencakup 5 kriteria. ‘’Seleksi awal ini penting, agar saham yang menjadi jawara merupakan saham berkualitas terbaik yang bisa menjadi acuan investor,’’ kata Parto.
Adapun kriteria seleksi awal dalam pemeringkatan Best Stock Awards yakni: Emiten tercatat di IDX minimal 5 tahun, Rata-rata nilai transaksi harian dalam 1 tahun terakhir minimal Rp 1 miliar.
Selanjutnya tidak mengikutsertakan emiten yang mempunyai notasi khusus dari IDX sampai batas waktu pengolahan data yang ditentukan kemudian, selanjutnya emiten tidak pernah atau tidak sedang memiliki mengalami masalah gagal bayar atau hukum berdasarkan keputusan resmi dalam 3 tahun terakhir, serta dalam rangka mendukung program ESG, emiten yang tidak memiliki Laporan Keberlanjutan periode tahun buku 2022 akan mendapat pengurangan nilai alias penalty.
Setelah lolos seleksi awal, emiten yang lolos akan dihitung dengan menggunakan sejumlah indikator meliputi:
Aspek Kinerja Keuangan diberi bobot 40% dan menggunakan 5 indikator penilaian yakni:
1. Tren pertumbuhan top line (pendapatan) dan bottom line (laba bersih) selama 5 tahun
2. Pertumbuhan gross profit margin selama 5 tahun
3. Pertumbuhan laba operasi selama 5 tahun
4. Pertumbuhan arus kas dari operasi selama 5 tahun
5. Pertumbuhan ROE dan ROA selama 5 tahun
Adapun aspek Valuasi diberi bobot 20% dan menggunakan 2 indikator penilaian yakni:
1. Price to Earning Ratio: rasio yang membandingkan antara harga saham dengan laba per saham dari setiap saham. Semakin rendah nilai PER (namun tidak negatif) dinilai valuasinya akan lebih murah dibandingkan saham lain.
2. Price to Book Value Ratio: rasio yang membandingkan antara harga saham dengan nilai buku per saham. Semakin rendah nilai PBV maka dinilai valuasinya akan lebih murah dibandingkan saham lain.
Sementara Aspek Volatilitas diberi bobot 20% dan menggunakan indikator BETA. BETA merupakan indikator untuk mengukur sensitivitas suatu saham terhadap pergerakan IHSG sebagai benchmark-nya. Semakin low sensitivity atau BETA yang rendah maka diindikasikan dapat lebih stabil. Terkait Likuiditas diberi bobot 20% dan menggunakan 2 indikator yakni: Rata-rata nilai transaksi harian dan Rata-rata nilai frekuensi harian dalam setahun terakhir.

