Tumbuh 9,6%, BFI Finance (BFIN) Catat Piutang Pembiayaan Rp 24 Triliun di 2024
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mencatatkan kinerja keuangan yang solid. Hal ini tercermin dari total piutang pembiayaan yang berhasil disalurkan sebesar Rp 24,1 triliun hingga akhir 2024, tumbuh 9,6% secara year on year (yoy).
Presiden Direktur BFI Finance Sutadi mengungkapkan, kompetisi yang kian ketat mendorong pihaknya untuk terus berinovasi lewat pengembangan jalur akuisisi melalui kolaborasi strategis guna menawarkan produk pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan konsumen serta peningkatan layanan di berbagai lini, baik jalur konvensional maupun digital.
“BFI Finance senantiasa proaktif menerapkan cara kerja dan model operasional baru guna mendukung ekspansi bisnis jangka panjang yang mendorong kinerja perusahaan secara bertahap, melalui berbagai transformasi kerja yang komprehensif,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (25/2/2025).
“Pendekatan ini menunjukkan komitmen BFI untuk selaras dengan tujuan jangka panjang, serta memanfaatkan berbagai dinamika perubahan dalam tren pasar,” sambung Sutadi.
Baca Juga
Optimalisasi Layanan dalam Genggaman, BFI Finance Luncurkan Aplikasi BFI Mobile
Sejalan dengan itu, lanjut Sutadi, pembiayaan baru meningkat 5,1% (yoy) menjadi Rp 20 triliun di 2024. Porsi piutang pembiayaan terbanyak adalah pembiayaan berjaminan kendaraan roda empat dan roda dua dengan porsi 59,5%, diikuti oleh pembiayaan alat berat dan mesin sebesar 15,5%, dan pembiayaan berjaminan properti sebesar 5%.
Lalu, pembiayaan untuk pembelian kendaraan roda empat bekas dan baru berkontribusi sebesar 16,1%, sedangkan pembiayaan berbasis syariah dan lainnya sebesar 3,9%. Sementara, pertumbuhan piutang tertinggi berasal dari segmen pembiayaan kendaraan roda empat bekas via showroom sebesar 35,3%.
Tumbuhnya kinerja juga dibarengi dengan kualitas pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) yang terjaga di posisi 1,25% dari sisi bruto dan 0,21% dari sisi neto hingga 31 Desember 2024. Capaian ini lebih baik ketimbang posisi NPF bruto secara industri yang berada di level 2,70%.
“NPF coverage tercatat sebesar 2.7 kali dari nilai NPF bruto, yang menunjukkan tingkat kehati-hatian perusahaan. Sementara itu, BFI Finance juga mempertahankan gearing ratio yang sangat rendah sebesar 1,3 kali atau jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan OJK yaitu 10 kali dan di bawah rata-rata dengan kirasar 2.31 kali,” ucap Sutadi.
Baca Juga
Dalam menjaga rentabilitas, ia menyatakan, BFI memiliki strategi antara lain, menyalurkan pembiayaan secara lebih selektif dan melakukan diversifikasi produk. Walaupun sektor pembiayaan menghadapi tantangan ekonomi, BFI Finance cermat pada pengelolaan risiko dan kualitas kredit untuk menjaga stabilitas kinerja.
BFI Finance juga membukukan total pendapatan sebesar Rp 6,3 triliun dengan total perolehan laba setelah pajak mencapai Rp 1,6 triliun. Return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) tercatat masing-masing di angka 8,0% dan 15,7% pada tahun 2024. Sementara, total kelolaan aset mencapai Rp 25,1 triliun atau naik 4,7% (yoy).
“Dengan fundamental bisnis yang kuat serta rekam jejak positif, sumber pendanaan juga berkembang dengan baik hingga Desember 2024. Sumber pendanaan terbesar berasal dari pendanaan bank dalam negeri sebesar 60% dari total pinjaman perusahaan, disusul oleh penerbitan obligasi sebesar 19%,” kata Sutadi.
Menyambut tahun 2025, dikatakan dia, BFI Finance selalu bertransformasi agar tetap relevan dengan kondisi pasar yang semakin menantang melalui berbagai strategi dan inisiatif, antara lain perluasan jaringan dengan peningkatan layanan terpadu berbasis digital, penyediaan solusi keuangan yang bersifat customer-centric, pengembangan teknologi end to end mulai dari sisi originasi pembiayaan hingga penagihan.
“Selain itu, aspek layanan pembiayaan konsumen juga terus ditingkatkan, termasuk modal kerja untuk para pelaku usaha, peningkatan akses pembiayaan berbasis digital melalui perangkat mobile, dan juga pelatihan wirausaha untuk konsumen dan para pelaku bisnis,” ucap Sutadi.

