Grup Salim Ikut Kembangkan SPAM Kertasari Bandung Senilai Rp 1,047 Triliun
BANDUNG, investortrust.id – Pemerintah bersama entitas bisnis Grup Salim, PT Moya Indonesia, tengah mengembangkan sistem penyediaan air minum (SPAM) Bandung Timur/Kertasari di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Proyek tersebut bernilai investasi sebesar Rp 1,047 triliun.
Mulanya, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti menyampaikan, salah satu indikator utama pada rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2025-2029 untuk menggapai akses air minum aman sekitar 34,15% rumah tangga dan cakupan layanan air minum jaringan perpipaan sebesar 38,07%.
Namun, lanjutnya, cakupan jaringan perpipaan sekarang masih 19,76%, artinya masih ada gap sebesar 18,31%. “Untuk mencapai target tersebut tentunya membutuhkan dana yang besar. Sehingga PDAM harus mulai menerapkan alternatif pembiayaan selain APBN atau APBD seperti skema Business-to-Business (B2B),” kata Wamen Diana dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, dikutip Senin (17/2/2025).
Baca Juga
Grup Salim Lirik Pelelangan SPAM di IKN, Begini Kata Kementerian PU
Ihwal itu, Diana menyampaikan apresiasi kepada Perumda Tirta Air Minum Tirta Raharja dan Pemerintah Kabupaten Bandung yang sudah menerapkan skema B2B untuk SPAM Bandung Timur/Kertasari ini bersama dengan PT Moya Indonesia.
“Sinergi antara pemda, swasta dan pemerintah pusat ini saya harapkan bisa menghasilkan yang terbaik agar masyarakat bisa mendapatkan air minum. Saya pesan air dari SPAM ini nantinya harus sudah kualitas air minum, bukan hanya kualitas air bersih,” imbuhnya.
Sebagai informasi, pengembangan SPAM Bandung Timur/Kertasari dilaksanakan oleh Perumda Air Minum Tirta Raharja dengan pembiayaan dari PT Moya Indonesia sebesar Rp 1,047 triliun.
Adapun bentuk kerja sama yang dilakukan adalah Build, Rehabilitate, Uprate, Operate, Transfer (BRUOT) dengan total masa konsesi 49 tahun.
Baca Juga
Menurut dokumen tertulis yang diterima investortrust.id, skema pembiayaan SPAM Kertasari akan dilakukan dalam 2 sisi, yakni Hulu dan Hilir. Di sisi Hilir, kontrak berbayar angsuran (KBA) sebesar Rp 631 miliar dan dana talangan pengadaan lahan sekitar Rp 54 miliar.
Sedangkan di sisi Hulu, biaya yang dikucurkan sebesar Rp 631 miliar dengan pengembangan booster pump, reservoir booster, pipa jaringan distribusi utama (JDU) sepanjang 381 km, jaringan distribusi bagi (JDB), dan retikulasi.
Sekadar informasi, commercial operation date (COD) SPAM Kertasari juga dilakukan dalam 2 tahap, meliputi tahap I Uprating IPA Cikoneng ditargetkan pada Januari 2026 dan tahap II IPA Cipeujeuh pada Februari 2028.
“Pengembangan ini mencakup rehabilitasi dan pembangunan kapasitas produksi baru dengan total kapasitas sebesar 1.100 liter/detik serta pembangunan jaringan distribusi dengan skema Kontrak Berbayar Angsuran (KBA),” terang Diana.
Baca Juga
Diana melanjutkan, pipa distribusi akan dirancang hingga 5,7 km yang menyambungkan 44.503 sambungan rumah (SR) di Kabupaten Bandung yang tersebar di Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Bojongsoang, Kecamatan Baleendah, Kecamatan Ciparay, Kecamatan Majalaya, Kecamatan Solokan Jeruk, Kecamatan Rancaekek, serta Kecamatan Cikancung.
Sementara itu, distribusi perpipaan dilakukan pada Kota Bandung meliputi Kecamatan Buah Batu, Kecamatan Rancasari, Kecamatan Gedebage, Kecamatan Cibiru.
Perlu diketahui, tarif air curah yang dikenakan nantinya ke 12 Kecamatan yang berada di Kota/Kabupaten Bandung kurang lebih Rp 1.685/m3. “Sumber airnya berasal dari Intake Kertasari dengan volume 500 liter/detik dan uprating instalasi pengolahan air (IPA) Cikoneng (600 liter/detik),” tutur Diana.

