IHSG Ytd Anjlok 6,24% hingga Net Sell Rp 10,51 Triliun, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) belum menunjukkan perbaikan hingga pekan kedua Februari 2025. Penurunan IHSG masih besar mencapai 6,24% year to date (ytd) tahun ini hingga menempatkan indeks BEI terburuk ketiga di dunia.
Berdasarkan data, IHSG BEI telah anjlok sebanyak 6,24% menjadi 6.638 ytd. IHSG BEI hanya lebih baik dari indeks bursas saham Thailand dengan penurunan 9,15% dan indeks bursa saham Filipina dengan pelemahan sebanyak 7,16%.
Baca Juga
Kapitalisasi pasar (market cap) saham juga telah anjlok dari level Rp 12.336 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp 11.401 triliun. Penyumbang utama penurunan kapitalisasi pasar ini datang dari koreksi sejumlah saham, seperti saham BBRI anjlok 3,26%, saham DSSA turun 5,46%, dan TPIA turun 1,41%.
Tak hanya itu, pemodal asing melanjutkan aksi penjualan bersih (net sell) saham telah mencapai Rp 10,51 triliun hingga ytd. Sedangkan net sell dalam sebulan terakhir telah mencapai Rp 7,58 triliun disumbangkan saham BBCA Rp 4,11 triliun, BMRI Rp 2,94 triliun, dan GOTO senilai Rp 925,14 miliar.
Terkait koreksi tajam IHSG ytd, Pengamat Pasar Modal Hans Kwee sebelumnya menyebutkan kekecewaan pelaku pasar terhadap kebijakan Trump menjadi faktor utama penekan indeks. Pelaku pasar sempat mengira, Trump akan menunda ancaman perang dagang yang telah disuarakan sejak pemilihan presiden.
Baca Juga
Pasalnya, saat Trump dilantik menjadi presiden Amerika Serikat (AS), tidak ada penandatanganan penaikan tarif bea masuk untuk produk impor dari negara mana pun. “Jadi sempat delay, waktu Trump dilantik pada 20 Januari 2025, pasar ketar-ketir. Begitu dilantik, Trump adem ayem, market positif dulu. Kemudian 1 Februari 2025 dia mulai perang dagang dengan mengancam (kenaikan tarif bagi) Kanada, Meksiko, China tetapi langsung ditarik lagi,” jelas Hans.
Tekanan juga datang dari sentimen dari dalam negeri, seperti sejumlah bank besar yang baru saja merilis laporan keuangannya untuk kinerja keuangan tahun 2024. Bank-bank tersebut menunjukkan rasio jumlah kredit dengan total dana pihak ketiga (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR) di atas 90%. Artinya sisa DPK untuk memperlebar penyaluran kredit terbilang sempit.
Penurunan juga dipengaruhi atas keputusan Indonesia masuk BRICS yang bisa menjadi sentimen negatif bagi investor. Apalagi Amerika Serikat (AS) sangat tidak senang dengan pembentukan BRICS tersebut.

