Usai Saham Multipolar Technology (MLPT) Terbang 1.877% Setahun, Manajemen Siapkan Aksi Korporasi Ini
JAKARTA, investortrust.id - Emiten jasa telekomunikasi dan teknologi PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) berencana akan melakukan aksi korporasi yakni stock split. Stock split sendiri yakni memecah nilai saham menjadi beberapa saham baru dengan nilai nominal yang lebih rendah.
Presiden Direktur MLPT, Wahyudi Chandra mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan kajian yang komprehensif dan mendalam terkait opsi-opsi strategis yang dapat meningkatkan likuiditas, serta menjaga daya tarik saham perseroan di pasar.
Baca Juga
BEI Unsuspend Saham MLPT dan SMDM, Sebaliknya Saham Ini Terkena Suspend
"Saat ini, kita masih terus memantau dan mengevaluasi berbagai kebijakan strategis termasuk wacana stock split. Kami memahami bahwa aksi koperasi seperti ini dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan likuiditas dan juga memperluas akses investor, terutama retail," kata Wahyudi dalam Public Expose Insidentil MLPT secara daring, Rabu, (12/2/2025).
Namun, kata Wahyudi, keputusan ini tentunya membutuhkan kajian yang sangat mendalam untuk memastikan bahwa langkah tersebut sejalan dengan panjang perseroan untuk memberikan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham perseroan.
"Kami saat ini masih dalam proses itu, kita mengkaji opsi-opsinya dan tentunya juga kita akan berdiskusi dengan pemegang saham utama dan kita akan memberikan informasi yang lebih lanjut dan transparan apabila terdapat perkembangan yang signifikan dari wacana-wacana ini," tuturnya.
Baca Juga
Saat Saham MLPT Melesat 1.749%, Pengendali Multipolar (MLPL) Untung Rp 50,66 Triliun
Di lantai Bursa, saham MLPT pada perdagangan sesi I Rabu, (12/2/2025) terpantau melemah 700 poin (2,12%) ke level Rp 32.275 per saham. Adapun nilai transaksinya mencapai 1,48 miliar dengan volume perdagangan 44.100 dan kapitalisasi pasar senilai Rp 60,52 triliun.
Berdasarkan data, MLPT tercatat sebagai saham dengan tingkat kenaikan pesat dalam setahun telah mencapai 1.877% menjadi Rp 30.450. Bahkan, saham ini telah berkali-kali dikenai penghentian sementara akibat kenaikan harga pesat.

