Merdeka Battery Materials (MBMA) Bukukan Penjualan Limonit dan Nikel Rp 8,63 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membukukan penjualan limonit dan nikel senilai Rp 8,63 triliun atau US$ 529 juta pada kuartal IV-2024.
Hingga September 2025, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan usaha dari US$ 873,68 juta menjadi US$ 1,37 miliar. Sedangkan laba periode berjalan melesat dari US$ 26,83 juta menjadi US$ 60,04 juta.
Realisasi tersebut, menggambarkan pendapatan sebelum diaudit dari penjualan limonit ke PT Huayue Nickel Cobalt (HNC) sebesar US$ 73,2 juta. Ditambah pendapatan sebelum diaudit dari nickel pig iron (NPI) sebesar US$ 223,8 juta dan penjualan high-grade nickel matte (HGNM) US$ 158,8 juta.
“Kinerja operasional perseroan menunjukkan penguatan pada 2024 yang mencerminkan komitmen kami terhadap efisiensi, keberlanjutan, dan inovasi,” ujar Presiden Direktur MBMA Teddy Oetomo dalam keterangan resmi pada Jumat (7/2/2025).
Baca Juga
Top! Laba Atribusi Merdeka Battery (MBMA) Terbang 2.627,11%, Berikut Penopangnya
Pada kuartal yang berakhir pada 31 Desember 2024, perseroan melaporkan peningkatan operasional, ditandai dengan pertumbuhan signifikan penambangan nikel dan pencapaian produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) perdana.
Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) mencapai rekor produksi bijih tertinggi dalam satu kuartal dengan menghasilkan 3 juta wet metric ton (wmt) saprolit dan 3,4 juta wmt limonit. Jumlah ini menunjukkan kenaikan secara tahunan (year-on-year/yoy) masing-masing sebesar 108% dan 110%.
Selama kuartal tersebut, 2,01 juta wmt bijih saprolit dikirim ke pabrik peleburan RKEF MBMA, sementara 4,1 juta wmt bijih limonit dijual ke PT Huayue Nickel Cobalt (HNC) senilai total US$ 73,2 juta. Harga jual rata-rata atau average sales price (ASP) sebesar US$ 17,9 per wmt.
“Pada 2024, Tambang SCM meningkatkan dan memperluas operasi penambangan serta infrastrukturnya, sehingga menghasilkan peningkatan produksi bijih secara signifikan dan penurunan biaya penambangan,” jelas manajemen.
Baca Juga
Mantan Bos Bukalapak (BUKA) Diangkat Jadi Dirut Merdeka Battery Minerals (MBMA)
Tambang SCM berhasil meningkatkan produksi bijih lebih dari dua kali lipat dengan produksi saprolit sebesar 4,9 juta wmt sepanjang 2024, dari 2,3 juta wmt pada 2023. Selain itu, produksi limonit mencapai 10,1 juta wmt tahun lalu.
Peningkatan substansial dalam produksi bijih disertai dengan pengurangan biaya yang signifikan. Pada akhir kuartal keempat 2024, cash cost atau biaya tunai saprolit turun menjadi US$ 21,6 per wmt dari US$ 28,4 per wmt pada kuartal pertama.
Demikian pula, cash cost limonit turun menjadi US$ 9 per wmt dari US$ 11,5 per wmt pada periode yang sama. “Memasuki 2025, MBMA dalam posisi pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh peningkatan produksi bijih nikel, peningkatan produksi pemurnian nikel, dan beroperasinya fasilitas HPAL,” sambung Teddy.
Selama kuartal ini, fasilitas pemurnian MBMA memproduksi total 30.716 ton nikel, yang mencakup 18.823 ton nikel dalam nickel pig iron (NPI) dan 11.893 ton nikel HGNM.
Baca Juga
Produksi ini menghasilkan pendapatan sebelum diaudit sebesar US$ 223,8 juta dari NPI dan US$ 158,8 juta dari HGNM, dengan ASP masing-masing sebesar US$ 11.887 per ton dan US$ 13.229 per ton.
Pada 2024, MBMA juga memproduksi 82.161 ton nikel dalam NPI1 dengan cash cost US$ 10.307 per ton. “Sesuai dengan rentang panduan 2024. Hal ini mencerminkan peningkatan volume sebesar 26% (yoy) dan penurunan biaya sebesar 15% (yoy),” jelas manajemen.
Sementara itu, produksi HGNM mencapai 50.315 ton dengan biaya tunai US$ 13.547 per ton yang juga dalam rentang panduan. Hal ini menunjukkan peningkatan volume sebesar 66% (yoy) dan penurunan biaya sebesar 8% (yoy). “Pencapaian ini akan semakin memperkuat posisi kami sebagai pemain global dalam rantai nilai baterai dan kendaraan listrik,” pungkas Teddy.

