Harga Emas Melemah Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas melemah ke level US$ 2.857 per troy ons seiring penguatan dolar AS serta aksi profit taking setelah kenaikan yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Selain itu, pasar logam mulia saat ini tengah berada dalam fase konsolidasi menjelang rilis salah satu indikator ekonomi utama AS, yaitu laporan ketenagakerjaan untuk bulan Januari yang akan diumumkan malam ini.
Melansir riset ICDX, Jumat (7/2/2025) harga emas menurun dengan support saat ini beralih ke area US$ 2.855 hingga area US$ 2.850 dan resistance terdekat berada di area US$ 2.872 hingga area US$ 2.876. Support terjauhnya berada di area US$ 2.837, sementara untuk resistance terjauhnya berada di area US$ 2.889.
Data penting yang akan dirilis adalah laporan situasi ketenagakerjaan AS untuk Januari, dengan estimasi pertumbuhan lapangan kerja sebesar 170.000, lebih rendah dibandingkan peningkatan 256.000 pada Desember. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di 4,1%, mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat. Upah rata-rata per jam untuk pekerja sektor nonfarm payrolls diproyeksikan tumbuh sebesar 0,3% MoM, sama seperti bulan sebelumnya di angka US$ 35,69.
Baca Juga
Setelah Cetak Rekor, Harga Emas Antam Terkena 'Profit Taking'
Indikator ini menunjukkan bahwa meskipun penciptaan lapangan kerja mengalami perlambatan, kondisi ketenagakerjaan tetap solid. Stabilitas ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunganya hingga pertengahan tahun, sembari menunggu dampak lebih lanjut dari kebijakan fiskal Presiden Donald Trump terkait strategi perdagangan global
Pasar juga merespons perkembangan terbaru terkait kebijakan tarif perdagangan AS. Dampak awal dari kebijakan tarif yang diusung pemerintahan Trump mulai mereda, memberikan sedikit kelegaan bagi pelaku pasar. Ancaman tarif 25% terhadap impor dari Meksiko dan Kanada ditunda selama satu bulan, sementara tarif yang dikenakan terhadap China hanya 10%, jauh lebih rendah dibandingkan ancaman awal sebesar 60%.
Baca Juga
Harga Emas Antam Cetak Rekor Saat China Balas Tarif Impor Barang AS
Kendati demikian, China telah mengumumkan tindakan balasan berupa pembatasan perdagangan yang dijadwalkan berlaku pekan depan. Situasi ini menciptakan momentum negosiasi lebih lanjut antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping guna mencapai kesepakatan sebelum tenggat waktu yang ditetapkan.

