Analis: Harga Bitcoin Tak Akan Turun ke Bawah Level Psikologis US$ 90.000
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin baru-baru ini anjlok hingga level terendah baru di posisi US$ 91.055 pada 9 Januari 2025, atau terendah sejak 1 Desember 2024. Hal itu memunculkan kekhawatiran bahwa Bitcoin akan turun ke bawah level psikologis US$ 90.000. Namun, para analis yakin Bitcoin tak akan turun ke bawah level tersebut.
Melansir Cointelegraph, Sabtu (11/1/2025), sejumlah analis pasar optimistis Bitcoin akan terhindar dari penurunan lebih lanjut dengan berbagai alasan pendukung. Salah satu alasannya, indeks ketakutan dan keserakahan kripto turun ke angka 50 dari sebelumnya 78.
Penurunan ini terjadi setelah harga Bitcoin anjlok 9% pada 7-10 Januari 2025. Perubahan sentimen dari ‘keserakahan’ menjadi ‘netral’ dinilai positif. “Soalnya, secara historis, harga Bitcoin cenderung berbalik arah setiap kali indeks mencapai zona netral atau takut,” jelas analis.
Baca Juga
Selain itu, Bitcoin belum memicu indikator puncak pasar bullish meskipun sempat gagal mempertahankan harga di atas US$ 100.000 pada 6 Januari 2025. Data CoinGlass menunjukkan, Bitcoin belum mendekati sinyal puncak pasar seperti terjadi pada 2017 dan 2021. Itu menunjukkan bahwa siklus kenaikan mungkin masih akan berlanjut.
Sementara itu, Kepala Penelitian Blocktrends, Caue Oliveira mengungkapkan, pemegang besar atau whales telah membeli 34.000 Bitcoin sejak akhir Desember 2024. Aktivitas akumulasi ini menunjukkan permintaan institusional tetap kuat meskipun volatilitas jangka pendek menguat.
“Hal ini mengindikasikan kepercayaan investor besar terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Pemain besar memanfaatkan konsolidasi untuk membuka posisi TWAP (time-weighted average price), dengan sabar mengakumulasikan tepat di bawah US$ 95.000,” ujar dia.
Selain itu, analis CryptoQuant MAC D menyatakan, meskipun investor jangka pendek mengalami kerugian, hal itu tetap akan menawarkan peluang akumulasi dibanding alasan panik menjual. “Menjual koin saat ini mungkin terbukti menjadi keputusan yang sangat tidak bijaksana,” tutur dia.
Spekulasi mengenai potensi penjualan lebih dari US$ 6,5 miliar dalam bentuk Bitcoin oleh pemerintah AS turut menjadi perhatian. Namun, seorang analis kripto, Miya menilai penjualan sebesar itu dalam waktu enam hari perdagangan hampir mustahil.
Baca Juga
Pemerintahan Donald Trump dan The Fed Akan Pengaruhi Harga Kripto di 2025
“Rumor ini pun sudah diperhitungkan dalam aksi jual baru-baru ini, sehingga pasar cenderung lebih stabil ke depan,” tutur dia.
Analis kripto lainnya, Mikybull, menjelaskan, kendati ada kemungkinan harga Bitcoin turun ke bawah US$ 90.000, pemulihan berbentuk V diperkirakan segera terjadi. Tekanan jual saat ini menawarkan peluang akumulasi yang menarik daripada alasan untuk panik menjual.
“Dengan sentimen netral dan akumulasi oleh investor besar, Bitcoin diperkirakan mampu bertahan di atas level psikologis US$ 90.000, meskipun volatilitas jangka pendek masih mungkin akan terjadi ke depan,” ujar dia.

