AS Mau Jual 69.370 Bitcoin Hasil Sitaan, Sentimen Bearish Menguat?
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) terus mengalami penurunan, diperdagangkan di bawah level US$ 95.000 atau sekitar Rp 1,5 miliar pada Kamis (9/1/2025). Setelah turun lebih dari 5% pada hari sebelumnya, aksi jual ini memicu gelombang likuidasi di pasar kripto dengan total likuidasi mencapai US$ 694,11 juta dalam 24 jam terakhir. Berdasarkan data dari CoinGlass, sekitar US$ 125 juta dari total likuidasi tersebut berasal dari Bitcoin.
Adapun Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) telah memperoleh persetujuan pengadilan untuk menjual sekitar 69.370 Bitcoin hasil sitaan dari pasar gelap atau darknet Silk Road. Nilai Bitcoin tersebut diperkirakan mencapai US$ 6,5 miliar atau setara Rp 105,7 triliun. Hakim federal AS memberikan izin kepada DOJ untuk melanjutkan penjualan aset tersebut. Keputusan ini mengakhiri sengketa kepemilikan yang berlangsung bertahun-tahun terkait aset sitaan itu, setelah Battle Born Investments kalah dalam upaya hukum untuk menunda penjualan.
Battle Born Investments sebelumnya mengklaim kepemilikan Bitcoin melalui aset kebangkrutan, dan bahkan mengajukan gugatan berdasarkan Freedom of Information Act (FOIA) untuk mengungkap identitas individu misterius, yang dikenal sebagai “Individual X,” yang menyerahkan Bitcoin tersebut. Namun, upaya ini tidak membuahkan hasil.
Pengacara Battle Born mengkritik cara DOJ menangani kasus ini, menuduh badan hukum tersebut menggunakan “manipulasi prosedural” dalam penerapan penyitaan aset sipil untuk menghindari pengawasan hukum lebih lanjut. DOJ berargumen di pengadilan bahwa volatilitas harga Bitcoin menjadi alasan utama untuk segera menjual aset sitaan tersebut. “Pemerintah akan melanjutkan tindakan sesuai dengan putusan dalam kasus ini,” ujar juru bicara DOJ melansir DB News, Rabu (8/1/2024).
Di sisi lain, data dari CryptoQuant menunjukkan bahwa net taker volume Bitcoin di Binance berbalik tajam menjadi negatif, dengan puncaknya mencapai -US$ 325 juta pada Selasa. Angka ini merupakan nilai tertinggi sepanjang tahun 2025 dan mencerminkan meningkatnya tekanan jual yang dipicu oleh laporan ekonomi Amerika Serikat yang mengecewakan, termasuk Indeks Manufaktur ISM dan data JOLTs.
Selain net taker Volume yang negatif, rasio long to short Bitcoin menurut Coinglass mencatat angka 0,89, terendah dalam lebih dari satu bulan. Rasio di bawah satu menunjukkan bahwa lebih banyak trader bertaruh pada penurunan harga BTC. Penurunan ini diperparah oleh menurunnya permintaan institusional, di mana arus masuk bersih ETF spot Bitcoin hanya sebesar US$ 52,40 juta pada Selasa, jauh di bawah US$ 978,60 juta pada hari sebelumnya.
Baca Juga
Donald Trump Meluncurkan Koleksi NFT Kelimanya di Jaringan Bitcoin
Menurut Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, situasi ini mencerminkan adanya pergeseran sentimen di pasar kripto. “Tekanan jual yang terus meningkat, khususnya pada Bitcoin, menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mempertimbangkan risiko lebih serius di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, trader harus tetap memperhatikan level teknikal kunci seperti US$ 92,493, yang merupakan level Fibonacci retracement 38,2%,” ujar Fyqieh dalam siaran pers, Kamis (9/1/2025).
Lebih lanjut Fyqieh menjelaskan, BTC terus melemah dengan data pasar tenaga kerja AS menguji taruhan pada pemangkasan suku bunga Fed pada H1 2025. Klaim pengangguran awal secara tak terduga turun dari 211 ribu (minggu yang berakhir pada 28 Desember) menjadi 201 ribu (minggu yang berakhir pada 4 Januari), terendah sejak 187 ribu pada Januari 2024.
Kondisi pasar tenaga kerja yang lebih ketat dapat mendorong pertumbuhan upah, yang memicu belanja konsumen dan inflasi yang didorong oleh permintaan. Prospek inflasi yang lebih tinggi akan mendukung jalur suku bunga Fed yang lebih agresif. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun mencerminkan sentimen terhadap jalur suku bunga Fed, naik ke level tertinggi 4,730%.
Secara teknikal, indeks Relative Strength Index (RSI) harian Bitcoin berada di level 47, di bawah level netral 50, mengindikasikan momentum bearish. Jika harga BTC terus mengalami koreksi, penurunan dapat meluas hingga menguji level support US$ 92.493, yang ditarik dari rendah November US$ 66.835 hingga tinggi Desember US$ 108.353.
Baca Juga
Namun, Fyqieh menambahkan bahwa peluang pemulihan tetap ada. “Jika Bitcoin mampu pulih dan ditutup di atas level psikologis US$ 100.000, maka potensi untuk menguji kembali level tertinggi sepanjang masa di US$ 108.353 masih terbuka lebar,” jelasnya.
Di tengah sentimen bearish ini, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada dan memperhatikan indikator-indikator kunci yang dapat memberikan petunjuk arah pergerakan harga selanjutnya.
Sementara masa depan BTC dapat bergantung pada data pasar tenaga kerja, arus ETF, dan kebijakan moneter Fed. Inisiatif yang lebih luas, seperti Strategic Bitcoin Reserve, juga akan memainkan peran penting dalam sentimen pasar.
Kondisi pasar tenaga kerja AS yang lebih ketat dapat menurunkan taruhan pada pemangkasan suku bunga Fed pada H1 2025. Fed yang lebih agresif dapat menyeret BTC di bawah EMA 50 hari menuju level support US$ 90.742. Sebaliknya, tingkat pengangguran yang lebih tinggi dan pertumbuhan upah yang lebih rendah dapat memicu kembali taruhan pada suku bunga Fed pada bulan Maret, mendorong BTC menuju rekor tertingginya di US$ 108.231.

