Tutup Layanan Marketplace Fisik, Saham Bukalapak (BUKA) Bisa Jadi Berapa?
JAKARTA, investortrust.id - Keputusan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) untuk menutup layanan marketplace fisiknya dan beralih ke penjualan produk virtual dinilai menjadi transformasi yang signifikan dan penuh tantangan.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana berpandangan keputusan ini sebagai langkah strategis untuk lebih fokus pada layanan pembayaran dan produk digital yang memang sedang mengalami pertumbuhan. Namun keputusan ini juga bisa membawa implikasi besar terhadap kinerja saham BUKA di pasar modal.
“Jika dalam jangka pendek, reaksi pasar terhadap pengumuman ini telah terlihat cukup negatif,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id, Rabu (8/1/2025).
Berdasarkan data BEI, saham BUKA mengalami penurunan hingga 4,10% ke level Rp 117 per saham pada penutupan perdagangan sesi II, Rabu (8/1/2025). Hendra menilai ini menggambarkan kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan pendapatan dari segmen marketplace fisik, yang sebelumnya menjadi tulang punggung perusahaan. Penurunan harga juga mencerminkan rasa ketidakpastian investor atas prospek bisnis BUKA pascatransisi.
Secara teknikal, Hendra memproyeksikan jika sentimen negatif terus berlanjut, saham BUKA bisa menembus level support psikologis di Rp 107. “Diperkirakan ada kemungkinan harga saham bisa turun lebih lanjut hingga mendekati Rp 100,” bebernya.
Baca Juga
Begini Dampak Penghentian Penjualan Produk Fisik di Marketplace Bukalapak (BUKA)
Hendra menilai level 100 menjadi penting, karena akan menciptakan tekanan jual yang lebih besar dan memperburuk sentimen pasar.
Dalam jangka panjang, menurutnya, jika BUKA berhasil melakukan transisi dengan baik dan menunjukkan pertumbuhan yang kuat di segmen layanan digital, maka ada potensi bagi saham BUKA untuk kembali menarik minat investor.
Sementara itu, pengamat pasar modal dari Panin Sekuritas, Reydi Octa menyebut saham BUKA akan kehilangan minat investor setidaknya sepanjang semester I-2025.
“Belum lama ini, perusahaan marketplace dari China yaitu TEMU sempat diisukan akan mengakuisisi BUKA demi bisa masuk ke Indonesia, harga BUKA sempat menguat. Namun hingga saat ini isu tersebut masih terbantahkan dan faktanya BUKA menghentikan layanan marketplace-nya segera,” ucap Reydi kepada investortrust.id, Rabu (8/1/2025).
Reydi juga menyebut saat ini masih menjadi periode yang menantang bagi industri marketplace untuk menigkatkan profitabilitasnya. Emiten-emiten di sektor ini disebutnya masih mengalami bleeding di laporan keuangannya. Ia memperkirakan langkah 'bakar uang' di industri ini masih terjadi.
“Karena saat satu perusahaan marketplace mulai berani menaikan tarif untuk tujuan cetak profit demi keberlangsungan operasional, kompetitor lainnya akan langsung banting harga untuk membajak target customer dari toko sebelah,” jelas dia.
Baca Juga
Dengan menutup layanan marketplace nya, nampaknya BUKA secara resmi retreat dari kompetisi ini dan memilih merampingkan bisnis dan operasionalnya.
Harga saham BUKA sempat menyentuh titik all time high (ATH) Rp 1.325. Namun, semenjak itu harganya mengalami tren turun yang panjang, hingga sampai Rp 116 per saham.
“Tahun 2025 ini nampaknya akan sulit bagi BUKA meraih minat investor untuk mengakumulasi sahamnya,” kata Reydi.
Ia berharap harga saham BUKA bisa rebound dengan adanya katalis seperti aksi korporasi merger dan akuisisi oleh perusahaan lain, yang berujung pada perbaikan laporan keuangan. “Namun, rasanya masih akan jadi perjalanan yang cukup panjang untuk BUKA mencapai level itu,” tuturnya.

