Menjelang Tahun 2025, Saham Emiten Peternakan Ayam JPFA, CPIN, dan MAIN makin Membara
JAKARTA, investortrust.id – Saham emiten peternakan dan pakan ayam diproyeksikan berlari lebih kencang tahun 2025, seiring dengan proyeksi peningkatan permintaan masyarkat dan terbatasnya oversupply pasokan daging ayam di pasaran.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli tiga emiten peternakan ayam, yaitu saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.700, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.800, dan PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) dengan taget harga Rp 1.900.
Baca Juga
Memasuki Kuartal IV, Saham Emiten Peternakan Ayam Ini Direkomendasikan Beli
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano Dan Wilastita Muthia Sofi mengatakan, industry peternakan dan pakan ayam memiliki outlook lebih baik pada 2025. Argumen ini didukung asumsi dinamika supply dan demand lebih baik tahun depan, peluang terkelolanya dengan baik harga bahan baku produksi pakan ternak, dan valuasi saham sektor ini masih murah.
“Saat ini saham sektor peternakan dan pakan ayam ditransaksikan pada -1,5SD dari rata-rata EV/EBITDA dalam lima tahun terakhir. Hal ini membuat valuasi saham MAIN,JPFA, dan CPIN sudah tergolong murah saat ini,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan bahwa harga jual anak ayam usia sehari (DOC) dan ayam hidup diproyeksikan naik tahun 2025 didukung terkendalinya suplai pasokan daging ayam di pasaran. Diproyeksikan kelebihan pasokan ayam hanya mencapai 397 ribu atau sekitar 14% dari total kebutuhan tahun 2025 sekitar 2,8 juta. Angka tersebut lebih rendah dari tahun 2024 dengan kelebihan sekitar 600 ribu atau 22% oversupply.
Baca Juga
Inilah Menu Makan Bergizi Gratis Saran Pakar, Peternakan Butuh Investasi Rp 100 Triliun
Terkendalinya oversupply, terang BRI Danareksa Sekuritas, didukung penurunan kuota impor indukan ayam (GPS) sebanyak 15% dari kuota tahun 2024 menjadi 560 ribu ekor bersamaan dengan perkiraan peningkatan permintaan sebanyak 5%. Belum lagi adanya tren peningkatan permintaan daging ayam menjelang pelaksaan program pemerintah makan bergizi gratis (MBG).
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, industry ini bakal menghadapi peluang penurunan margin keutungan segmen bisnis pakan ternak akibat tren kenaikan harga bahan baku. Hanya saja dampak kenaikan harga bahan baku akan terkelola dengan baik.
Berdasarkan asumsi harga pembelian jagung dan buntil kedelai (SBM) masing-masing naik 5,3% menjadi Rp 5.670 per kg dan naik 5,4% menjadi US$ 362 per ton. Kenaikan harga bahan kau tersebut kemungkinan akan dikompensasi terhadap peningkatan harga jual pakan ternak guna mempertahankan margin keuntungan tetap terkendali.
Grafik Saham CPIN, JPFA, dan MAIN

