Mirae Asset Targetkan IHSG di Level 8.000 Tahun Depan, Ini Katalis Positifnya
JAKARTA, investortrust.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) menargetkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di level 8.000 pada 2025 dibanding saat ini di posisi 7.313. Penguatan indeks akan ditopang sejumlah katalis positif, di antaranya pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di kisaran 5%, inflasi yang terjaga rendah, dan tren penurunan suku bunga.
"Kamiproyeksikan IHSG di sepanjang tahun 2025 akan berada di level 8.000. Dengan asumsi ekonomi Indonesia tetap stabil di kisaran 5% dan peluang penurunan suku bunga meskipun relatif terbatas, target IHSG dapat tercapai,” kata Head of Research/Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto dalam paparan Investor Network Summit 2024 di Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Baca Juga
Mirae Asset Sebut Kemenangan Trump Picu Fluktuasi Pasar Keuangan
Menurut Rully, didukung inflasi yang rendah dan tren suku bunga yang melandai, daya beli masyarakat akan menguat. Fundamental makro ekonomi yang kuat akan membuat emiten-emitan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menorehkan kinerja keuangan yang lebih konclong.
Rully menjelaskan, inflasi di Tanah Air terus menurun akibat stabilnya harga bahan makanan. Hingga tahun depan, inflasi diperkirakan tetap rendah selama tidak ada gangguan cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi produksi pangan.
Baca Juga
Mirae Asset Sekuritas Revisi Naik Target IHSG 2024, Sebanyak 10 Saham Ini Pilihan Teratas
“Dengan stabilnya harga bahan makanan, dampak penaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% yang direncanakan pemerintah diperkirakan tidak signifikan, terutama karena bahan pokok dikecualikan dari kenaikan PPN,” ujar dia.
Inflasi yang terkendali, kata Rully Arya Wisnubroto, akan menjaga daya beli masyarakat, terutama disektor pangan sebagai pilar utama penopang konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi penyumbang terbesar bagi produk domestik bruto (PDB) pengeluaran dengan kontribusi sekitar 56%.
“Kami optimistis belanja rumah tangga akan tetap terjaga dan tumbuh stabil pada tahun mendatang,” tegas Rully.
Rully mengemukakan, disokong inflasi yang terkendali di kisaran 2,8% dan faktor daya beli yang kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 5% dengan posisi suku bunga acuan, BI-Rate, di level 5,5%.
“Mempertimbangkan berbagai faktor makroekonomi tersebut, prospek pasar modal Indonesia tetap positif pada 2025,” tutur dia.
Baca Juga
Pasar Saham Masuk Fase Waiting Game, Mandiri Sekuritas Prediksi IHSG Tahun Depan di Level 8.150
Perihal BI-Rate, Rully Arya memprediksi ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) itu akan lebih terbatas akibat ketidakpastian ekonomi global, terutama tantangan dari kebijakan ekonomi pemerintahan baru AS.
Rully mengakui, kebijakan-kebijakan pemerintahan baru AS di bawah Donald Trump yang cenderung proteksionis berpotensi memicu inflasi di AS dan mempersempit ruang penurunan suku bunga acuan Bank Sentral AS, Fed Funds Rate (FFR).
“Kondisi itu pada akhirnya akan memperkuat nilai tukar dolar AS di pasar global, yang berdampak pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia. Itu tantangannya,” ucap dia.

