Mengejutkan! BTC Tembus US$ 100.000 Setara Rp 1,6 Miliar per Koin, The Fed: Bitcoin Bisa Kalahkan Emas
JAKARTA, investortrust.id – Setelah sempat melemah cukup dalam, harga Bitcoin (BTC) secara mengejutkan memecahkan rekor tertinggi barunya alias all time high (ATH) di atas US$ 100.000 atau setara Rp 1,6 miliar per koin.
Menilik Coinmarketcap, Kamis (5/12/2024) pukul 10.55 WIB, koin kripto terbesar di dunia ini secara market cap terpantau mencapai ATH ke posisi US$ 103.282 setara Rp 1,64 miliar per koin usai naik sekitar 8% dalam sehari.
Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada Kamis (5/12/2024) dini hari WIB dalam wawancaranya bahkan menyebutkan, posisi emas sebagai aset terbesar di dunia semakin terancam oleh kehadiran Bitcoin.
Ketika ditanya tentang Bitcoin dan bagaimana hal itu dapat mencerminkan kepercayaan atau ketidakpercayaan orang-orang terhadap dolar AS atau Federal Reserve itu sendiri, Powell berkomentar, "Saya rasa orang-orang tidak berpikir seperti itu”
"Orang-orang menggunakan Bitcoin sebagai aset spekulatif. Itu seperti emas, persis seperti emas, hanya saja itu virtual, digital. Orang-orang tidak menggunakannya sebagai alat pembayaran atau penyimpan nilai. Itu sangat volatil. Itu bukan pesaing dollar, itu sebenarnya pesaing emas,” katanya.
Dilansir dari cryptobriefing.com, Powell menekankan bahwa peran Federal Reserve adalah untuk mengamati bagaimana aset digital berinteraksi dengan sistem perbankan, namun ia menjelaskan bahwa bank sentral tidak mengatur aset kripto.
Sementara, ketika ditanya apakah ia memiliki aset kripto, Powell menjawab bahwa ia tidak diperbolehkan memiliki aset semacam itu karena posisinya. Untuk informasi, aset dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia masih ditempati oleh emas dengan US$ 17,959 triliun. Sedangkan Bitcoin berada di posisi ketujuh dengan kapitalisasi pasar US$ 1,954 triliun.
Baca Juga
Wow! 60 Perusahaan Publik Hold BTC dengan Kepemilikan hingga 522.265 Bitcoin
Pernyataan Powell tentu menandai pergeseran besar dalam pengakuan terhadap Bitcoin sebagai kelas aset. Pernyataan tersebut telah memicu perdebatan di pasar yang lebih luas tentang apa artinya bagi rencana cadangan Bitcoin strategis yang sedang dipersiapkan oleh presiden terpilih AS Donald Trump.
Selama dekade terakhir, peran Bitcoin telah berkembang pesat. Kendati koin ini dimulai sebagai aset untuk memfasilitasi pembayaran peer to peer, BTC terus berkembang menjadi lindung nilai yang sah terhadap inflasi. Perbandingan antara BTC dan emas berfokus pada hal ini, mengingat emas telah lama menjadi penyimpan nilai yang dapat diandalkan selama berabad-abad.
Adapun kedua aset ini telah mencatatkan beberapa rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) tahun ini, namun BTC telah mengungguli emas dalam keuntungan secara tahun berjalan (year to date/ytd).
Secara ytd hingga 4 Desember 2024, harga emas mengalami kenaikan sebesar 28,47% yakni dari US$ 2.062 menjadi US$ 2.649 per troy ons. Sedangkan Bitcoin terbang lebih dari 130,27% yakni dari US$ 42.505 menjadi US$ 97.876.
Baca Juga
Bitcoin Koreksi Selama Sepekan, Mampukah Sentuh US$ 100.000?
Selain itu, terpilihnya Donald Trump dari Partai Republik sebagai presiden AS memicu ekspektasi bahwa pemerintahannya akan menciptakan lingkungan peraturan yang bersahabat untuk mata uang kripto.
Sejak kemenangan Trump pada tanggal 5 November, harga BTC telah melonjak sekitar 45%, didorong oleh banyaknya pembelian yang telah mengalirkan modal ke dana yang diperdagangkan di bursa yang didukung Bitcoin di AS.
Kepala Penelitian Aset Digital Global Standard Chartered London Geoff Kendrick mengatakan, sekitar 3% dari total pasokan Bitcoin yang pernah ada telah dibeli pada tahun 2024 oleh uang institusional.
“Pada akhirnya, ini hanyalah angka, tetapi kenyataannya adalah kita telah mampu mencapai tingkat ini karena industri ini telah terlembagakan khususnya pada tahun ini dan itu sebagian besar adalah aliran masuk ETF,” ujarnya dikutip dari Reuters, Kamis (5/12/2024).
Lebih dari 16 tahun setelah penciptaannya, bitcoin muncul di titik puncak penerimaan arus utama, meskipun ada penentang dan sejarah kontroversi. “Bitcoin melampaui US$ 100.000 lebih dari sekadar tonggak sejarah; ini adalah bukti perubahan arus di bidang keuangan, teknologi, dan geopolitik,” kata Justin D'Anethan, seorang analis kripto independen yang berbasis di Hong Kong. "Angka yang belum lama ini dianggap sebagai khayalan, kini menjadi kenyataan,” tambahnya.
Trump menggunakan aset digital selama kampanyenya, berjanji untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai “ibu kota kripto dunia” dan mengakumulasi persediaan Bitcoin nasional.
Investor kripto melihat berakhirnya peningkatan pengawasan di bawah Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS Gary Gensler, yang pekan lalu mengatakan ia akan mengundurkan diri pada Januari ketika Trump mulai menjabat. Pada hari Rabu, Trump mengatakan dia akan mencalonkan Paul Atkins untuk menjalankan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).

