Trump Pro Kripto, China Berpotensi Aktifkan Lagi Pasar Aset Digital
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Hashkey Group, Xiao Feng memunculkan kegaduhan di industri kripto. Ia berspekulasi bahwa kebijakan pemerintahan Donald Trump yang pro kripto akan menginspirasi China mengaktifkan kembali pasar aset digitalnya dalam waktu dua tahun.
Melansir CryptoNewsFlash, Jumat (15/11/2024), Feng menekankan bahwa sanksi Barat, terutama isolasi Rusia dari sistem pembayaran SWIFT pada 2022, juga dapat memaksa China mempercepat pendiriannya itu terhadap aset kripto.
Xiao Feng mengeklaim bahwa inisiatif terbaru Trump menunjukkan sentimen proaktif dan kuat terhadap kemajuan sektor kripto di AS. Dengan demikian, China mungkin harus memikirkan kembali pendiriannya dan mulai memasuki kembali pasar aset digital.
Baca Juga
4 Jenis Kripto Ini Tampak Menjanjikan di Bulan November 2024, Berminat?
Kemungkinan perubahan sikap China bersamaan dengan minat global yang meningkat terhadap kripto, menyusul kemenangan elektoral Trump. Kembalinya Trump sebagai nakhoda Amerika Serikat (AS), serta diterimanya teknologi blockchain dan kripto oleh pemerintahannya telah membuat orang-orang memperdebatkan reaksi China.
China sebelumnya melarang perdagangan dan penambangan kripto secara ketat pada 2021. Tetapi, menurut Feng, kebijakan AS mungkin akan memicu reaksi berantai yang menyebabkan China mengubah sikapnya.
Larangan China terhadap kripto sebagian besar ditujukan pada keuangan terdesentralisasi dan perdagangan spekulatif. Namun, dorongan strategis Trump dapat memaksa China menyelidiki pembukaan kembali pasar aset digitalnya agar tetap kompetitif secara global.
Dengan fokus utama pada sentralisasi kontrol atas pasar keuangan, China selalu menjaga pengawasan ketat terhadap teknologi keuangan dan aset digital. Namun, kebijakan baru dunia Barat secara progresif mendorong penggunaan aset digital dan blockchain.
Baca Juga
Survei MV Capital: Pasar Kripto akan Capai Puncaknya di Paruh Kedua 2025
Menurut Xiao Feng, China mungkin akan menderita kerugian jika terus mengabaikan atau menghalangi sektor yang tengah berkembang, sementara banyak negara lain yang memasukkan aset kripto ke dalam sistem perbankan.
“China akan menghadapi bahaya kehilangan perkembangan teknologi dan peluang eonomi dengan menghindari industri aset digital, terutama di sektor keuangan terdistribusi dan infrastruktur blockchain, di mana pengaruh pertumbuhan dunia Barat begitu cepat,” ujar Feng.

