Terlepas dari Siapa Pemenang Pemilu AS, Harga Bitcoin Tetap Bisa Capai US$ 100.000
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) diprediksi bisa mencapai level US$ 100.000, terlepas dari siapa kandidat yang nanti akan memenangkan pemilihan umum (Pemilu) Amerika Serikat (AS). Prospek regulasi yang menguntungkan dan status Bitcoin sebagai lindung nilai, membuatnya berpotensi menembus level harga tersebut.
Melansir Cointelegraph, Senin (4/11/2024), Pendiri TYMIO Yield dan TYMIO Protect Georgii Verbitskii mengungkapkan, pemilihan presiden AS telah menimbulkan perdebatan panjang tentang bagaimana kedua kandidat dapat membentuk masa depan aset kripto, khususnya Bitcoin.
“Terlepas dari apakah Donald Trump atau Kamala Harris menjadi presiden, pergerakan Bitcoin menuju US$ 100.000 tampaknya tak terelakkan, didorong oleh faktor-faktor mendasar yang melampaui lanskap politik,” ujarnya.
Baca Juga
Namun di sisi lain, jika jika Trump menang, maka harga Bitcoin diprediksi akan semakin naik. Janji-janjinya yang berani, termasuk kemungkinan menambahkan Bitcoin ke cadangan AS dan upaya untuk mempromosikan token World Liberty Financial (meskipun gagal), telah meningkatkan sentimen pro-kripto.
Pemerintahan Trump kemungkinan akan fokus pada pengurangan hambatan regulasi terhadap inovasi aset kripto, yang memposisikan AS sebagai pusat keuangan digital global. Sentimen pro-kripto ini sejalan dengan kebijakan ekonomi Trump yang lebih luas yang memprioritaskan pengurangan kontrol pemerintah atas pasar keuangan dan mendorong inovasi.
Sementara itu, jika Harris menang diprediksi akan memicu respons yang lebih netral dari pasar. Ia tidak membuat janji langsung tentang kripto tetapi berupaya memastikan adanya perlindungan konsumen dan pencegahan kejahatan keuangan.
Pemerintahan Harris mungkin akan tetap bersikeras pada keseimbangan perlindungan yang tepat terhadap risiko bagi pengguna tanpa menghalangi inovasi. Para pendukungnya, terutama kaum progresif, menginginkan regulasi yang jelas yang memungkinkan pasar kripto menjadi lebih transparan, sehingga mendorong inklusi keuangan sekaligus mengurangi risiko penipuan dan manipulasi.
Baca Juga
Peluang Kemenangan Donald Trump Menyusut, Laju Kenaikan Bitcoin Tertahan
Meski begitu, orang-orang masih ingin melihat kripto digunakan untuk memberdayakan komunitas yang kurang terlayani, tetapi dengan hati-hati karena spekulasi yang berlebihan. Hasilnya, 2025 dapat menjadi tahun regulasi kripto yang lebih komprehensif dan menguntungkan.
Tren menuju kerangka regulasi yang transparan dan pro-kripto tidak dapat disangkal dan ini akan menjadi faktor penting bagi masa depan Bitcoin.
Faktor utama yang dapat mendorong harga Bitcoin naik bukanlah pemilu itu sendiri melainkan ketidakstabilan saat ini dalam sistem keuangan global.
Utang nasional yang terus meningkat, yang telah melampaui US$ 105.000 untuk setiap warga negara AS, dan meningkatnya anggaran federal telah menciptakan lingkungan yang rapuh bagi aset tradisional.
Bitcoin, dengan pasokannya yang terbatas dan terdesentralisasi, dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ini. Investor mencari perlindungan dari tekanan inflasi dan potensi ketidakstabilan keuangan, itulah sebabnya mereka beralih ke Bitcoin.
Penggerak signifikan lainnya dari pertumbuhan Bitcoin adalah kejelasan regulasi, terutama dalam keuangan terdesentralisasi. Meskipun BTC sebagian besar lolos dari tuntutan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), yang mengklasifikasikannya sebagai komoditas, mirip dengan emas atau minyak, lingkungan regulasi keseluruhan untuk keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan kripto secara umum masih belum pasti.
Dengan fokus pemerintah pada penciptaan kerangka kerja industri yang lebih jelas, antisipasi undang-undang yang menguntungkan dapat memicu revolusi DeFi.
Transparansi tidak hanya akan membawa lebih banyak kepercayaan kepada investor tetapi juga membuka tingkat inovasi dan adopsi baru di ruang kripto, sehingga mendorong harga BTC lebih tinggi.

