Analis Ungkap Sentimen IHSG pada November: Pilpres AS hingga Suku Bunga The Fed
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) belakangan cenderung bergerak di zona merah seiring munculnya berderet sentimen penekan pasar.
Beberapa sentimen pemicu pelemahan IHSG diantaranya, rilis kinerja kuartal III-2024 emiten yang di bawah ekspektasi pasar, kemudian spekulasi pasar terhadap dampak kasus Sritex (SRIL) ke industri perbankan.
Penguatan harga emas, pelemahan nilai tukar Rupiah hingga penantian rilis data inflasi Indonesia juga turut berkontribusi menjadi penekan pasar saham.
Menutup bulan Oktober hari ini, Kamis (31/10/2024), IHSG berhasil menguat tipis sebesar 0,05% ke level 7.574,02.
Baca Juga
Alumindo (ALMI) Stop Kegiatan Operasional, Begini Langkah BEI
Menyambut awal bulan November 2024, Direktur Utama PT Anugerah Mega Investama sekaligus Analis Pasar Modal, Hans Kwee mengatakan, para pelaku pasar cenderung wait and see terhadap beberapa sentimen di bulan November.
“Kalau kita lihat, pasar sekarang menunggu event cukup penting tanggal 5 November mendatang yakni pilpres Amerika Serikat (AS), kalau Donald Trump menang kemungkinan pasar itu koreksi makanya pelaku pasar itu wait and see, cenderung hati-hati sekali,” kata Hans kepada investortrust.id saat ditemui usai acara CSA Awards 2024 di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (31/10/2024).
Lebih lanjut, ia mengatakan sentimen The Fed juga menjadi perhatian pelaku pasar. Untuk diketahui, The Fed akan mengadakan pertemuan berikutnya pada 6-7 November mendatang, dengan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mendekati 80%.
“Memang pasar tadinya berekspetasi 50 basis poin (bsp), sekarang turun ke 25 bsp. Tentu yang sekarang jadi pertanyaan pasar adalah sesudah pemotongan November, apakah ada pemotongan lagi di Desember? Jadi itu yang sangat mempengaruhi pasar nah oleh karena itu memang kita agak sulit memprediksi November itu,” terang Hans Kwee.
Baca Juga
Ifishdeco (IFSH) Raih Penjualan Rp 709,30 Miliar, Bidik Produksi Bijih Nikel 2,24 Juta Ton 2025
Karena menurutnya hal itu sangat berpengaruh pada tanggal 5 November mendatang. Selain itu, Hans Kwee juga mengungkapkan adapun sektor saham yang mempengaruhi, jika Trump memenangkan pilpres tersebut, secara langsung dolar AS menguat kemudian hal itu mempengaruhi harga komoditas.
“Kalau si Trump menang biasanya kan dolar itu menguat, dan biasanya komoditas lebih diuntungkan. Tapi, secara umum kalau Trump itu menang biasanya pasar saham itu terkoreksi secara umum jadi itu nggak terlalu bagus bagi kita,” ujar dia.
Namun, Hans bilang jika bukan Trump yang memenangkan pilpres seharusnya lebih bagus secara umum bagi pasar dan bisa bergerak rebound di era penurunan tingkat suku bunga.
“Nah biasanya sektor yang diuntungkan seperti sektor perbankan kemudian kalau suku bunga memang turun properti harusnya bergerak kalau properti bergerak kita ada semen penurunan-penurunan yang lain itu bergerak sendiri,” pungkasnya.
Grafik IHSG Sepanjang Oktober 2024:

