BRI (BBRI) Catat Laba Bank Only Rp 41,67 Triliun di Kuartal III 2024, Tumbuh 6,85%
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI membukukan laba secara bank only senilai Rp 41,67 triliun. Nilai itu tumbuh 6,85% secara tahunan atau year on year (YoY) dari sebelumnya Rp 39 triliun.
Adapun laba konsolidasi sebesar Rp 45,06 triliun per kuartal III 2024. Laba BRI ini tumbuh 2,44% YoY dari sebelumnya Rp 43,99 triliun. Sedangkan jika ditambahkan dengan laba untuk kepentingan non pengendali, maka laba konsolidasi BRI mencapai Rp 45,36 triliun, naik dari Rp 44,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
BRI kembali mencatatkan kinerja positif di tengah dinamika ekonomi global dan kondisi ekonomi domestik yang masih penuh dengan tantangan. Direktur Utama BRI Sunarso menyampaikan bahwa ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan adalah hasil dari fundamental bisnis yang kuat.
“Capaian tersebut tidak terlepas dari fokus BRI yang secara konsisten memperkuat fundamental kinerja, serta melakukan strategic response yang tepat dalam menghadapi berbagai dinamika pasar,” ungkapnya dalam paparan kinerja kuartal III BRI, Rabu (30/10/2024).
Baca Juga
Hingga akhir September 2024 tercatat BRI secara bank only, berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 1.216,40 triliun atau tumbuh 6,13% dari periode yang sama tahun 2023 sebesar Rp 1.146,08 triliun. Perseroan tetap mampu menjaga kualitas kredit yang disalurkannya.
Adapun rasio kredit bermasalah non performing loan (NPL) gross dan net BRI terkendali masing-masing 3,04% dan 0,84%, dibandingkan di periode yang sama tahun 2023 masing-masing sebesar 3,23% dan 0,73%.
Banknya wong cilik tersebut mampu menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1.357,53 triliun hingga akhir September 2024 atau tumbuh 0,36% dari Rp 1.352,68 triliun per akhir September 2023.
Baca Juga
Pemerintah Fokus Hilirisasi hingga Swasembada Pangan dan Energi, Ini Respons BRI
BRI berhasil menjaga rasio likuiditas pada level yang memadai, di mana tercatat loan to deposit ratio (LDR) pada akhir September 2024 tercatat sebesar 89,60%. Dari sisi permodalan, BRI juga mampu menjaga rasio permodalan yang kuat dengan rasio permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 24,96%.
Sementara itu, Investment Analyst Lead Stockbit Rahmanto Tyas menilai kinerja BRI pada periode Juli-September 2024 sejalan dengan ekspektasi, dengan laba bersih naik menjadi Rp 15,4 triliun atau naik 11,2% secara kuartalan (QoQ) dan 5,4% YoY didorong oleh kuatnya pertumbuhan pre provision pperating profit (PPOP).
Performa tersebut didorong oleh pertumbuhan PPOP yang kuat, kenaikan credit cost (CoC) didorong oleh anak usaha PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan pertumbuhan kredit.
“Concern utama kami berasal dari CoC yang masih berada di level tinggi. Di sisi lain, manajemen BBRI mengisyaratkan dapat meningkatkan dividend payout ratio, dengan yield dapat mencapai 7,3%,” ujarnya dalam riset, Rabu (30/10/2024).
Dari sisi lain, pertumbuhan PPOP juga didorong pertumbuhan yang kuat pada non interest income. Pertumbuhan non interest income didorong oleh pemulihan aset yang telah dihapuskan (recovery of written off assets) sebesar Rp 7,7 triliun.
Di sisi lain, manajemen BBRI mengisyaratkan bahwa perseroan berada di posisi yang cukup kuat untuk meningkatkan dividend payout ratio hingga 85% atau lebih tinggi dari 2023 yang sebesar 80%, jika disetujui oleh pemegang saham.
Jika BBRI dapat mencapai laba bersih 2024 sebesar Rp 60,7 triliun sesuai ekspektasi konsensus, maka dividend payout sebesar 85% setara dengan dividend yield sebesar 7,3%, berdasarkan harga saham BBRI secara intraday pada hari ini, Rabu (30/10/2024), di level Rp 4.690 per lembar.

