Ternyata Dana Kelolaan Reksa Dana Bisa Tembus Rp 1.000 Triliun, Asal…
JAKARTA, Investortrust.id - Jika judi online dan investasi ilegal bisa diberantas secara optimal, dan dana masyarakat tadi bisa fasilitasi untuk dialokasikan ke instrumen investasi reksa dana sebagai instrumen investasi paling populer, maka bisa jadi dana kelolaan atau AUM (asset under management) reksa dana di Indonesia sudah mencapai Rp 1.000 triliun.
Hal ini disampaikan oleh CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu saat membuka acara Indonesia Manajer Investasi Award 2024 (IMA Award 2024), yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (24/10/2024). Acara IMA Award 2024 ini digelar Investortrust.id bekerja sama dengan Infovesta.
“Saat ini dana yang berputar di judi online diketahui mencapai Rp 327 triliun tahun 2023, lalu dana yang berputar di investasi ilegal pada tahun 2022 diketahui mencapai Rp 120,8 triliun. Jika masyarakat mendapatkan edukasi yang baik tentang alokasi investasi yang tepat, tentunya dana kelolaan reksa dana di Tanah Air sudah bisa menembus Rp1.000 triliun,” ujar Primus.
Sekadar informasi, dana kelolaan di industri Manajer Investasi Idnonesia per September 2024 tercatat sebesar Rp 822,69 triliun, yang merupakan dana kelolaan dari 90 manajer investasi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Bandıngkan dengan DPK Perbankan Rp 8.364 triliun pada periode yang sama.
“Selama ini selalu muncul pertanyaan, kapan dana kelolaan manajer investasi bisa menembus angka Rp1.000 triliun. Namun jika ada edukasi yang baik mengenai pengelolaan dana oleh masyarakat, tentunya angka Rp1.000 triliun bisa dicapai,” ujar Primus.
Dalam kesempatan yang sama, Primus juga menyampaikan sejauh ini dana kelolaan reksa dana masih terbesar dibandingkan 5 jenis produk Investasi lainnya yang dilansir oleh manajer investasi. Namun Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) menjadi produk investasi yang bertumbuh signfikan.
Berdasarkan catatan dari OJK, dari total angka dana kelolaan sebesar Rp 822,69 triliun, reksa dana masih mendominasi dengan dana kelolaan sebesar Rp503,5 triliun, diikuti oleh KPD dengan total dana kelolaan sebesar Rp302,5 triliun.
“Jika dilihat sejak tahun 2020, AUM KPD bertumbuh lebih cepat dibandingkan AUM reksadana. Sampai September pangsa kontrak pengelolaan dana semakin meningkat, menggerus pangsa reksa dana. Gap keduanya mengecil,” tutur Primus.
Berdasarkan nilai dana kelolaan manajer investasi berdasarkan produk, selain didominasi oleh reksa dana yang sebesar Rp503,5 triliun dan diikuti oleh KPD dengan total dana kelolaan sebesar Rp302,5 triliun, dana kelolaan yang terkumpul dalam bentuk RDPT atau reksa dana pendapatan tetap tercatat sebesar Rp18,07 triliun, lalu DIRE (Dana Investasi real Estate) atau biasa dikenal juga dengan nama REITs (Real Estate Investment Trust) telah mengumpulkan dana kelolaan sebesar Rp10,8 triliun di tahun 2023.
Sisanya sebesar Rp7,93 triliun terangkum sebagai dana kelolaan di DINFRA atau Dana Investasi Infrastruktur, serta Efek Beragun Aset (EBA) sebesar Rp2,02 triliun.
Sementara itu jumlah investor reksa dana terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Bandingkan ketika tahun 2020, jumlah investor reksa dana baru sebanyak 3,2 juta investor. Jumlah investor bertumbuh signifikan saat pandemi, melompat menjadi 6,8 juta rekening di tahun 2021, dan kembali meningkat pesat menjadi 9.6 juta di tahun 2022.
Pertumbuhan jumlah investor reksa dana belum berhenti di tahun 2022, karena di tahun berikutnya kembali bertumbuh menjadi 11,4 juta. Per Agustus 2024, jumlah investor reksa dana telah tercatat sebesar 12,9 juta.
Berdasarkan catatan OJK pula, diketahui sebanyak 3 manajer investasi harus terlempar dari singgasana di lima besar MI Tanah Air selama periode 10 tahun terakhir. Mereka adalah Schroder Investment Management Indonesia yang terlempar ke posisi 12, lalu Mandiri Manajemen Investasi yang harus tergesar ke posisi delapan, serta BNP Paribas Asset Management ke posisi 10.
Sementara itu Bahana TCW Investment Management yang sebelumnya menghuni posisi kelima MI berdasarkan dana kelolaan, di tahun ini mampu melesat dan nangkring di posisi pertama, diikuti Manulife Aset Manajemen Indonesia yang berada di posisi kedua, naik dua peringkat, serta PT BRI Manajemen Investasi yang menyodok ke posisi ketiga setelah sebelumnya parkir di posisi ke delapan.
Hingga September 2024, masih menurut OJK, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menjadi pemilik pangsa pasar reksa dana terbesar di Tanah Air dengan porsi 8,9%, dan nilai aktiva bersih Rp 44,62 triliun. Di posisi kedua diisi PT Bahana TCW Investment Management dengan pangsa 8,8% dan nilai aktiva bersih sebesar Rp44,44 triliun, dan PT BRI Manajemen Investasi dengan pangsa 7,3% dan nilai aktiva bersih sebesar Rp36,86 triliun.
Pada posisi keempat duduk PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen dengan pangsa 6,4% dan nilai aktiva bersih Rp32,03 triliun, dan di posisi kelima diisi PT Trimegah Asset Management dengan pangsa 6,4% dan nilai aktiva bersih Rp 31,97 triliun.

