Ciptakan Wealth Creation, Infovesta Harap Manajer Investasi Bisa Diversifikasi Produk ke ETF Berbasis Emas dan Bitcoin
JAKARTA, investortrust.id - Vice president PT Infovesta Utama Wawan Hendrawan mengatakan bahwa reksa dana saham kurang menghasilkan wealth creation alias penciptaan kekayaan. Hal ini disebabkan oleh indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tidak naik secara signifikan dalam 10 tahun terakhir.
“Kalau kita lihat datanya, ya jujur saja kalau basisnya adalah saham, 10 tahun terakhir ya tidak menghasilkan wealth creation gitu. Karena IHSG pun hanya 50%,” ujarnya dalam FGD yang dilakukan oleh Investortrust bersama sejumlah manajer investasi yang bertajuk “Strategi MI Mengoptimalkan Kinerja Reksa Dana Di Tengah Tren Penurunan Suku Bunga” di kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Kamis (17/10/2024).
Terlebih lagi, saat ini mayoritas investor pasar modal di Indonesia terdiri dari investor dengan usia dibawah 30 tahun atau Gen Z.
Menurutnya, mayoritas Gen Z lebih memilih instrumen investasi yang menghasilkan return secara pasti dan aman. Asal tahu, saat ini jumlah investor reksa dana sendiri mencapai 12,9 juta per Agustus 2024 atau naik dari jumlah investor di tahun 2023 yaitu 11,4 juta investor.
“Kalau dilihat data Gen Z ini malah bukan risk taker pak. Mereka lebih banyak justru produknya itu pada money market atau fixed income. Artinya mereka memang inginnya yang justru yang secara slowly naik dan aman begitu ya,” paparnya.
Baca Juga
Bitcoin Jadi Aset dengan Performa Terbaik Sepanjang Tahun Ini, Diikuti Emas dan Saham AS
Sehingga, ia berharap kepada seluruh pemangku kepentingan, pelaku pasar dan juga regulator untuk menghasilkan diversifikasi produk selain produk yang telah ada saat ini, seperti exchange traded fund (ETF) berbasis emas dan kripto, dengan berkaca pada bursa luar negeri.
Harapannya, hal tersebut dapat diakomodasi di pemerintahan selanjutnya. Menurutnya, diversifikasi produk tersebut akan mendorong lebih banyak transaksi di pasar modal Indonesia, mengingat mayoritas Gen Z memilih instrumen yang mendapatkan return yang cepat.
“Kalau untuk para generasi muda ini, mereka definitely akan tertarik dengan return. Jadi, kalau diberikannya adalah sesuatu yang bisa return-nya naik dengan cepat, tinggi, itu mereka tertarik. Terbukti kalau kita bicara tentang investor kripto di Indonesia, itu sekarang sudah 20 juta,” ucap Wawan.
Baca Juga
Harga Bitcoin Ungguli Laju Indeks Saham Global dan Emas di Bulan Oktober Ini
Diharapkan, hal tersebut juga dapat mendorong pertumbuhan jumlah investor di pasar modal. Apabila ekosistem tersebut telah tersedia, investor yang sebelumnya hanya berinvestasi di emas ataupun kripto, dapat berinvestasi di pasar modal lewat ETF tersebut melalui manajer investasi.
“Jadi, kita mau beli emas daripada pusing-pusing, harus menyimpannya, beli emas batangan, bagaimana menyimpannya, bagaimana jualnya, produk ETF, dikelola oleh fund manager. Dan membuka juga untuk investor kripto tadi, berinvestasi lewat industri manajer investasi. Jadi, semoga inovasi-inovasi seperti ini, sesuai dengan perkembangan zaman tentunya, itu bisa diakomodasi, terutama nanti di pemerintahan Pak Prabowo,” pungkasnya.

