Garuda Indonesia (GIAA) Kantongi Peringkat idBBB dengan Prospek Stabil
JAKARTA, investortrust.id – Lembaga peirngkat efek, Pefindo menetapkan peringkat idBBB dengan prospek stabil kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Peringkat terbaru GIAA tersebut berlaku sejak 3 Juli 2024 hingga 1 Mei 2025.
Sebagai catatan, obligor dengan peringkat idBBB memiliki kemampuan yang memadai dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor lebih mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi.
Analis Pefindo Yogie Perdana dan Resnanda Dahono mengatakan, peringkat tersebut mencerminkan kemungkinan yang kuat akan adanya dukungan pemerintah, posisi bisnis GIAA yang kuat, dan jaringan rute yang komprehensif.
‘’Peringkat dibatasi oleh profil keuangan Perusahaan yang lemah, persaingan pasar yang ketat, dan partisipasi Perusahaan pada sektor industri penerbangan yang menurut pandangan kami cukup cyclical,’’ urai Yogie dan Resnanda dalam Pengumaman Peringkat GIAA yang dilansir, Selasa (1/10/2024).
Baca Juga
Rugi Bersih Garuda (GIAA) Semester I Naik, Berikut Pemicunya
Lebih lanjut kata dia, Pefindo dapat menaikkan peringkat jika profil keuangan GIAA membaik karena imbal hasil yang lebih kuat dan tangguh, sehingga leverage menjadi lebih rendah dan cakupan arus kas menjadi lebih kuat secara berkelanjutan.
‘’Kami juga dapat menaikkan peringkat jika GIAA memenuhi rencananya untuk mengurangi utang dan memperkuat metrik kreditnya. Namun, kami dapat menurunkan peringkat jika kinerja operasional memburuk secara signifikan, akibat penurunan perjalanan penumpang dan tekanan harga tiket pesawat yang tidak terduga, atau jika peningkatan material atas basis biaya melemahkan profitabilitas dan arus kas secara berkelanjutan,’’ urainya.
Dukungan pemerintah yang lebih lemah juga dapat menyebabkan Pefindo merevisi penilaian tentang kemungkinan dukungan pemerintah yang sudah dipertimbangkan dalam peringkat.
Didirikan pada tahun 1949, GIAA adalah maskapai penerbangan nasional Indonesia yang menyediakan layanan penumpang udara, kargo, dan layanan maskapai lainnya, dengan hub utamanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dekat Jakarta.
Perusahaan melayani sistem penerbangan full service (FSC) melalui maskapai utamanya, Garuda Indonesia, dan penerbangan bertarif rendah (LCC) melalui anak perusahaannya yang dimiliki sepenuhnya, PT Citilink Indonesia.
Perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawatnya juga dilakukan oleh anak perusahaan, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
Baca Juga
Rekomendasi Saham Analis Hari Ini: ADRO, LSIP, SRTG dan TINS
Per 31 Maret 2024, pemerintah memiliki 64,5% saham Perusahaan, diikuti oleh Trans Airways (8%), dan sisanya dimiliki oleh publik.
Sebelumnya, Manajemen GIAA menyampaikan laporan keuangan audit semester I-2024 dengan mencatatkan peningkatan rugi periode berjalan menjadi US$ 100,35 juta, meningkat dibandingkan rugi periode berjalan untuk semester I-2023 yang mencapai US$ 76,38 juta.
Peningkatan rugi bersih tersebut berbanding terbalik dengan pendapatan usaha yang justru bertumbuh pesat dari US$ 1,37 miliar menjadi US$ 1,62 miliar.
Grafik Harga Saham GIAA secara Ytd:

