Kena ‘Prank’ FTSE Global, Kekayaan Prajogo Pangestu Menguap Rp 163,5 Triliun Hanya Hitungan Detik
JAKARTA, investortrust.id – Prajogo Pangestu kehilangan kekayaan senilai US$ 10,9 miliar atau setara dengan Rp 163,5 triliun hanya dalam beberapa menit pada Jumat (20/9/2024). Menguapnya kekayaan tersebut dipicu ‘prank’ FTSE Global Index yang membatalkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masuk sebagai konstituen.
Berdasarkan data Forbes real time, Jumat (20/9/2024), Prajogo Pangestu tercatat sebagai manusia dengan penurunan nilai kekayaan paling besar hari ini mencapai US$ 10,9 juta. Sedangkan Elon Musk tercatat sebagai manusia dengan penambahan nilai kekayaan paling besar hari ini mencapai US$ 9,4 miliar.
Baca Juga
IHSG Sesi I Babak Belur Akibat Kejatuhan Saham Emiten Prajogo Pangestu
Menguapnya kekayaan Prajogo Pangestu senilai Rp 163,5 triliun mengakibatkan total kekayannya turun drastic menjadi US$ 62,7 miliar. Kini Prajogo Pangestu menduduki peringkat orang terkaya nomor 25 di dunia terlempat dari posisi kemarin nomor 22 atau berada di bawah Guatam Adani yang menduki peringkat 21 dunia dengan nilai kekayaan US$ 82,3 miliar.
Awal mula kehancuran saham-saham emiten Prajogo datang setelah FTSE Russel dalam pengumuman resminya, Kamis (19/9/2024), menyebutkan bahwa FTSE Russell membatalkan saham Barito Renewables (BREN) sebagai konstituen perhitungan FTSE Global Equity Series - Large Cap. Hal ini karena jumlah saham public yang rendah, karena sebanyak 97% saham BREN hanya dikuasi empat pihak.
FTSE Global Equity melanjutkan bahwa penghapusan akan efektif sejak pembukaan pada hari Rabu (25/9). Sebelumnya, BREN akan masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series - Large Cap yang akan berlaku per 20 September 2024 dan efektif pada 23 September 2024.
Baca Juga
Ternyata bukan kali ini saham BREN terkena 'prank', pada Juni 2024, BREN juga gagal masuk perhitungan indeks FTSE Global kategori market cap besar. Pembatalan akibat saham BREN terkena suspensi perdagangan saham di BEI lebih dari dua hari dan perdagangannya kemudia dikenakan dengan mekanisme full call auction (FCA).
FTSE Russell Group adalah sebuah organisasi finansial di Inggris yang mengkhususkan diri dalam menyediakan indeks untuk pasar keuangan global. Saham-saham yang masuk dalam kriteria FTSE dianggap memiliki fundamental yang kuat dan likuiditas yang baik, sehingga menjadi pertimbangan penting bagi investor, terutama investor asing.
Market Cap Terhempas
‘Prank’ FTSE Global tersebut memicu penurunan dalam saham BREN hingga auto reject bawah (ARB) dengan penurunan sebanyak Rp 2.200 (19,95%) menjadi Rp 8.825. Penurunan tersebut memicu kapitalisasi pasar (market cap) BREN menguap Rp 295 triliun hanya lima detik setelah perdagangan saham hari ini dibuka.
Baca Juga
Gagal Masuk Indeks FTSE Global, Waspadai Pergerakan Saham Barito Renewbales (BREN)
Berdasarkan data, market cap BREN kini tersisa Rp 1.180 triliun, dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin level Rp 1.475 triliun. Penurunan tersebut menggulingkan posisi BREN sebagai emiten dengan market cap terbesar di BEI ke posisi ke dua. Sedangkan posisi pertama kembali direbut PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 1.337 triliun.
Tak hanya saham BREN, empat saham emiten lainnya yang dikendalikan Prajogo Pangestu anjlok pada penutupan sesi I hari ini. Di antaranya, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebanyak 6,11% menjadi Rp 8.450, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terjungkal 8,37% menjadi Rp 1.095, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) anjlok 14,41% menjadi Rp 7.575, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 8,46% menjadi Rp 11.900.
Grafik Saham Emiten Prajogo

