Sentuh Level Tertinggi September Ini, Harga Minyak Naik Jadi US$ 73,70 per Barel
JAKARTA, jnvestortrust.id - Harga minyak minyak mentah berjangka Brent menguat 95 sen (1,3%) ke posisi US$ 73,70 per barel pada Selasa (17/9/2024). Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga naik US$ 1,10 (1,6%) ke level US$ 71,41 per barel.
Kenaikan ini merupakan harga tertinggi sepanjang bulan September untuk kedua kontrak tersebut, selain itu juga dipicu oleh gangguan pasokan di Amerika Serikat (AS) yang semakin memburuk. Terlebih, harapan permintaan akan meningkat jika The Fed memangkas suku bunga pada Rabu ini.
Melansir Reuters, Rabu (18/9/2024), lebih dari 12% produksi minyak mentah di Teluk Meksiko AS berhenti akibat Badai Francine pekan lalu, yang mendorong harga minyak naik dalam empat dari lima sesi terakhir. Sebelumnya, harga minyak Brent sempat mencapai level terendah dalam hampir tiga tahun pada 10 September lalu.
Baca Juga
Di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Sejumlah Proyek Besar, Begini Target Harga Saham Medco (MEDC)
Analis Senior Investasi di broker XM Charalampos Pissouros, mengatakan, harga minyak telah berada dalam mode pemulihan sejak Rabu. “Mungkin karena kekhawatiran pasokan setelah Badai Francine di Teluk Meksiko, serta ekspektasi penurunan stok minyak mentah AS,” ujarnya.
Berdasarkan survei Reuters, stok minyak mentah AS diperkirakan turun sekitar 500 ribu barel pada pekan yang berakhir 13 September. American Petroleum Association akan merilis perkiraannya setelah Selasa sore, diikuti oleh laporan resmi dari Administrasi Informasi Energi AS pada Rabu pagi.
Baca Juga
Dampak Badai hingga Sentimen Suku Bunga AS Dorong Kenaikan Harga Minyak
Menurut para analis di Rystad, upaya mediasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menyelesaikan krisis ini gagal mencapai kesepakatan. Harga minyak juga didukung oleh gangguan pasokan di Libya, yang mana konflik antara faksi faksi yang bersaing terkait kendali Bank Sentral telah mengurangi produksi dan ekspor minyak.
Menurut data pengiriman Kpler, ekspor minyak mentah Libya meningkat tiga kali lipat pekan lalu menjadi sekitar 550 ribu barel per hari. Namun, angka ini masih setengah dari ekspor bulan sebelumnya yang mencapai lebih dari 1 juta barel per hari.
Investor berharap pemangkasan suku bunga The Fed yang besar diperkirakan dapat merangsang permintaan di AS sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia. Fed funds futures menunjukkan peluang 69% bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (bps).

