Di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Sejumlah Proyek Besar, Begini Target Harga Saham Medco (MEDC)
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) layak dipertimbangkan di tengah berlanjutnya kenaikan harga minyak dalam beberapa bulan terakhir. Saham ini juga layak dilirik sejalan denganberlanjutnya eksplorasi minyak dan gas (migas) perseroan dan sejumlah proyek besar perseroan dalam jangka panjang.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MEDC dengan target harga Rp 1.700. Sedangkan sentimen yang bisa menekan harga saham ini dating dari peluang penurunan harga minyak dan penurunan kontribusi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terhadap kinerja keuangan.
Baca Juga
Medco E&P Natuna Resmikan Pasokan Gas Perdana dari Proyek West Belut, Berkapasitas 55 MMSCFD
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa MEDC memiliki dua kriteria asset, yaitu value delivery asset dan growth asset. Value delivery asset adalah asset yang tengah memasuki eksplorasi untuk peningkatkan kapabilitas produksi, seperti Blok B Natuna, Corridor, dan Bualuang. Blok Belut ditargetkan komersiap pada semester II tahun ini dengan taget bisa meningkatkan 31 mboepd. Sedangkan blok Corridor yang tengah memasuki survey seismic memiliki potensi peningkatan produksi 18 juta boepd tahun 2034.
Estimasi Kinerja Keuangan MEDC
Selain faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, MEDC memiliki ruang pertumbuhan jangka panjang dari Medco Power yang memiliki tiga pilar bisnis, yaitu geothermal, gas untuk pembangkit, dan solar PV. Perusahaan ini kini memiliki kapasitas 882 MW ditambah 51 MWp. Perusahaan ini juga ditargetkan mendapatkan tambahan produksi 504 MW dan 2.025 MWp pada 2030.
Tambahan produksi diharapkan dari Pulau Bulan Solar PV dengan target 600 MW. Proyek tersebut digarap perseroan melalui perusahaan konsorsium PadificLigth Renewables dan Gallant Venture dengan nilai proyek kotor US$ 3 miliar dan capex dari ekuitas mencapai US$ 300 juta.
Baca Juga
Dampak Badai hingga Sentimen Suku Bunga AS Dorong Kenaikan Harga Minyak
Listrik yang dihasilkan pembangkit tersebut akan diekspor ke Singapura. Proyek tersebut ditargetkan membangun kapaista pembangkit sebanyak 2,7 GWp dengan menggunakan solar panel dan system penyimpanan baterai. Proyek lainnya juga dating dari pengembangan panas bumi Ijen sebesar 110 MW dan ekspansi DEB mencapai 215 MW.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan performa operasional perseroan tahun 2024 dan 2025 diprediksi tak ada peningkatan berarti. Produksi migas diperkirakan hanya naik sekitar 10%.
Berbagai factor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MEDC dengan target laba bersih perseroan mencapai US$ 327 juta tahun ini dan diperkirakan turun menjadi US$ 304 juta tahun 2025.
Grafik Saham MEDC

