Infrastruktur Pipa dan Beyond Pipeline Gas Bumi Jadi Skema Andalan Perusahaan Gas Negara (PGAS)
JAKARTA, investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) memilih pengembangan infrastruktur pipa dengan infrastruktur gas bumi beyond pipeline, sebagai skema andalan perusahaan dalam mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi.
“Untuk saat ini dan kedepannya, infrastruktur pipa dengan infrastruktur gas bumi beyond pipeline akan menjadi skema andalan PGN dalam optimalisasi pemanfaatan gas bumi,” ujar Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko dalam paparan publik secara virtual, Selasa (17/9/2024).
Manajemen mengaku telah mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan rencana investasi di tengah dinamika perekonomian nasional dan global. Sepanjang semester I-2024 pencapaian belanja modal perseroan sebesar US$ 70 juta, dengan 44% diserap oleh segmen hilir (downstream) dan lainnya, sedangkan 56% diserap oleh segmen hulu (upstream).
Baca Juga
Realisasi tersebut lantaran dari sisi operasional, secara umum pencapaian segmen niaga gas bumi juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Terdapat penurunan volume pasokan gas pipa akibat natural decline atau penurunan alami kondisi sumur dari pemasok di wilayah Sumatera dan Jawa, serta adanya libur Lebaran di kuartal II-2024.
Tantangan pasokan tersebut, menurut Arief, perlu diantisipasi dengan mulai menambah pasokan gas dari LNG. “Perusahaan terus menjalankan strategi yang terukur dan sejalan dengan rencana pemerintah untuk terus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi. Untuk itu perusahaan melakukan sejumlah inisiatif di antaranya dengan membangun dan menambah infrastruktur gas bumi yang terintegrasi untuk mendorong perluasan segmen pengguna,” paparnya.
Arief menambahkan, sejumlah inisiatif tersebut akan mendorong kehandalan bisnis utama perusahaan secara berkelanjutan dan jangka panjang. Pada saat yang sama, PGN tetap mengedepankan inovasi dan solusi untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan para pelanggan.Termasuk salah satunya menghadirkan LNG di tengah menurunnya pasokan alami (natural decline) gas bumi di sejumlah sumur eksisting.
Subholding gas PT Pertamina (Persero) itu terus melakukan inisiatif untuk memperluas pemanfaatan gas bumi di berbagai segmen pelanggan di Indonesia. Selama empat tahun, pendapatan konsolidasi perseroan menunjukkan tren kenaikan, dengan pertumbuhan 8% pada 2020–2023.
Baca Juga
Hal tersebut didukung oleh volume niaga gas dan transportasi gas yang merupakan kontributor utama, sebesar kurang lebih 70% bagi pendapatan perusahaan.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, mulai tahun 2021 PGN dapat mengelola dan menjaga profitabilitas konsolidasi. “Hal ini sangat penting untuk mendukung kemampuan perseroan dalam berinvestasi dan bertumbuh secara berkelanjutan,” imbuh Arief.
Sepanjang enam bulan pertama tahun 2024, volume gas bumi yang mayoritas berasal dari gas pipa atau sebesar 99,6% kontribusi masih menjadi penopang utama kinerja PGN. Sedangkan untuk komersialisasi LNG regasifikasi sebesar 0,4%. Berdasarkan sumber gas, sebesar 38% berasal dari Pertamina Grup dan sisanya dari gas pemasok lainnya termasuk Corridor Block.
Pendapatan PGN pada semester I-2024 tercatat sebesar US$ 1,839 miliar atau meningkat 3% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Pada saat yang sama beban pokok pendapatan meningkat hanya 1% menjadi US$ 1,432 miliar pada semester I-2024 dibandingkan US$ 1,415 miliar pada semester I-2023.
Dengan begitu, laba kotor perusahaan terkerek naik 11% menjadi sebesar US$ 407 juta dibandingkan US$ 368 juta (yoy). "Secara keseluruhan, perseroan telah menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan profitabilitas yang meningkat. Kami percaya dengan terus menjalankan strategi bisnis yang telah ditetapkan, melakukan pengelolaan operasional secara optimal dan efisien, serta penerapan manajemen keuangan dan manajemen risiko yang prudent, perseroan akan mampu menghadapi tantangan dan peluang," tegas Arief.
Baca Juga
PGN (PGAS) Bukukan Laba Bersih USD 186,6 Juta di Semester I-2024
Demikian juga laba operasi yang naik 3% menjadi US$ 293 juta dibandingkan US$ 284 juta (yoy). Di pos bottom line, laba bersih PGN berhasil tumbuh sebesar 28% menjadi US$ 187 juta pada semester I-2024 dibandingkan US$ 145 juta pada semester I-2023.
Pada periode semester I-2024, pencapaian EBITDA diklaim cukup stabil, yaitu sebesar US$ 578 juta dikontribusikan dari penurunan laba selisih kurs dan beban penyusutan.
Pencapaian EBITDA dikontribusikan 75% dari segmen niaga gas, transmisi gas dan lainnya, serta 25% dikontribusikan dari segmen hulu. Sedangkan lini bisnis niaga gas dan transmisi memberikan kontribusi sebesar 73% terhadap pendapatan perusahaan. Sebesar 11% dikontribusikan dari lini bisnis hulu (upstream) dan sebesar 16% sisanya adalah kontribusi dari lini bisnis lainnya.

