Kalbe Farma (KLBF) Disebut dapat Manfaat Penguatan Rupiah, Sahamnya Direkomendasikan Beli
JAKARTA, investortrust.id - PT CGS International Sekuritas Indonesia (CGS Sekuritas) menilai emiten sektor kesehatan yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) akan memperoleh keuntungan paling besar dari penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Analis CGS Internasional Sekuritas, Jason Chandra dan Elizabeth Noviana memaparkan, sebanyak 29% dari harga pokok penjualan KLBF per semester I-2024 bergantung pada mata uang dolar AS, terutama untuk bahan aktif farmasi untuk produk farmasi dan susu bubuk skim untuk produk nutrisi.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot, Selasa (17/9) dibuka di level Rp 15.367 per dolar AS. CGS Sekuritas memperkirakan bahwa jika rupiah bertahan pada level saat ini di 15.400, laba bersih KLBF akan naik 8% secara tahunan.
Baca Juga
CGS Sekuritas Prediksi Kenaikan IHSG, Empat Saham Ini Layak Dilirik
“Pasalnya, nilai tukar yang menguntungkan seharusnya tercermin dalam kinerja keuangan KLBF dari kuartal I-2025 dan seterusnya, karena persediaan bahan baku KLBF akan cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan produksi selama 4-6 bulan,” tulis riset CGS Sekuritas dikutip, Selasa (17/9/2024).
Disampaikan, kontribusi produk khusus terhadap total pendapatan meningkat dari 1% pada tahun 2018 menjadi 3% pada semester I-2024 dan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut menjadi 5% pada 2026.
Produk specialty pharmaceutical sendiri terdiri dari produk biologi dan produk biosimilar serta obat berbasis kimia, sebagian besar digunakan untuk mengobati pasien kanker.
Riset tersebut juga menyebut persaingan ini relatif tidak terlalu ketat di Indonesia, mengingat kemampuan klinis yang kompleks yang dibutuhkan, yang juga menjelaskan mengapa segmen specialty pharmaceutical KLBF memiliki marjin EBIT yang tinggi sekitar 21% di semester I-2024, lebih tinggi dari marjin EBIT KLBF secara keseluruhan sebesar 14% pada semester I-2024.
CGS Sekuritas merekomendasikan beli untuk KLBF dengan target price sebesar Rp 1.900 per saham. Target ini didorong oleh penguatan rupiah.
Baca Juga
Risiko negatifnya yakni permintaan yang lebih lambat dari perkiraan untuk produk biologisnya, dan lebih lambat dari perkiraan masuknya produk ke dalam e-katalog platform pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Sependapat dengan Jason Chandra dan Elizabeth Noviana, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyampaikan sentimen tren pemangkasan suku bunga acuan ke depan akan berimplikasi positif terhadap meningkatnya potensi pemulihan perekonomian global, sehingga berdampak positif terhadap sektor kesehatan.
“Fundamental makro kita kuat, misalnya perekonomian kita stabil karena ditopang oleh strong domestic consumption, maka sektor healthcare pun akan berpotensi berkembang ke depannya, terlebih KLBF market capnya besar dan juga termasuk saham yang likuid,” kata Nafan saat dihubungi investortrust.id Selasa, (17/9/2024).
Grafik Harga Saham KLBF secara Ytd:

