Bullish, Saham BRI (BBRI) Bisa Naik ke Rp 7.900
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI disebut berpotensi naik ke level Rp 7.900 dalam jangka panjang. Saat ini saham bank pelat merah dengan kapitalisasi terbesar (market cap) ini sedang memasuki trend bullish.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Reyhan Pratama menjelaskan, dalam pergerakan harian (daily), saham BBRI sudah mulai bergerak bullish meski sebelumnya sempat turun signifikan.
“Kami perhatikan secara tren, BBRI sudah mulai bergerak bullish. Artinya trennya sudah mulai naik, ketika harga sudah bergerak di atas garis MA (moving average) dan menembus resistance di area Rp 4.980,” jelas Reyhan pada InvesTalk Series BRI secara virtual, Kamis (12/9/2024).
Baca Juga
BRI (BBRI) Lepas Minoritas Saham BRI Manajemen Investasi ke Amundi
Dia juga melihat bahwa posisi harga saham BBRI masih bergerak di atas garis MA dan berpotensi melanjutkan penguatan dengan target Rp 5.625 secara harian atau jangka pendek. Sedangkan sampai penutupan perdagangan kemarin, saham BBRI masih berada di level Rp 5.175.
Sementara itu untuk pergerakan saham mingguan atau jangka menengah, tren BBRI masih tergolong bearish dan bersiap rebound. Mirip dengan proyeksi pergerakan harga saham harian, penguatan BBRI secara mingguan berpotensi menuju level Rp 5.625.
“Kemudian untuk monthly (bulanan) yang menarik ya, kami perhatikan trennya masih bullish dan ini masih cukup kuat. Trennya kami lihat harga sudah memantul dari area support MA60 (rata-rata 60 hari),” jelas Reyhan.
Baca Juga
Melesat dan Diborong Asing Agustus 2024, Seberapa Jauh Saham BRI (BBRI) bisa Naik?
Selain dipercaya masih akan bullish, saham BBRI juga diyakini bisa menembus level resistance Rp 6.450 atau berpotensi menguat sekitar 23% dari posisi saat ini
“Kemudian untuk target jangka panjangnya, kami perhatikan ini masih ada potensi, penguatan ke area Rp 7.900, lagi arahnya masih bullish, dan ini masih bertahan di atas (level) support Rp 4.110,” tutup Reyhan.
Pada kesempatan yang sama, Senior Executive Vice President (SEVP) Change Management & Transformation Office BRI Harsya Prasetyo memaparkan capaian perseroan pada semester I-2024. Dengan pertumbuhan pinjaman meningkat 11,2% (yoy) dan total pinjaman konsolidasi mencapai Rp 1.336,8 triliun.
Peningkatan pinjaman itu ditopang dengan portofolio korporasi yang tumbuh sekitar 29,2% (yoy). “Kenapa sih konsumennya di korporasi. Pertama, kami melihat lebih banyak peluang dalam pemberian pinjaman korporasi untuk saat ini,” jelas Harsya.
Baca Juga
Perbankan Masih Biayai Sektor Pertambangan, BRI Beri Alasan Ini
Pasalnya, daya beli kelas menengah ke bawah diakui sedang tertekan pada kuartal-kuartal sebelumnya sehingga BRI memutuskan untuk sedikit bergeser ke sektor korporasi. Manajemen meyakini, hingga semester I-2024, lebih banyak peluang pemberian pinjaman di korporasi.
Secara spesifik, beberapa pertumbuhan yang besar adalah pinjaman dari sektor fast moving consumer goods (FMCG) hingga Rp 8 triliun. Kemudian sektor agribisnis Rp 11,1 triliun, dan perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan pangan meningkat sekitar Rp 11,3 triliun.
Berikutnya, porsi pinjaman mikro dari BRI turun menjadi 46,6% dari pemberian pinjaman yang turun hampir 150 basis point. Hal ini sejalan dengan kondisi makro yang menunjukkan, inflasi pangan baru mereda pada bulan Juli dan Agustus 2024. “Jadi kami sangat berhati-hati di segmen mikro untuk saat ini dengan kondisi makro yang ada. Dan kami memfokuskan di mikro ini untuk perbaikan daripada kualitas aset di semester pertama,” jelas Harsya.
Grafik Saham BBRI

