Meskipun Beban Bunga Melonjak, Pertumbuhan Laba Jasa Marga (JSMR) Diprediksi Tetap Kuat
JAKARTA, investortrust.id – PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diperkirakan tetap mampu untuk mencetak pertumbuhan laba bersih pesat ke depan, sekalipun beban bunga mengalami peningkatan dan kondisi-kondisi lainnya tidak sesuai dengan ekspektasi.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (11/9/2024), dalam kondisi teruburuk sekalipun, seperti penyelesaian divestasi 35% PT Jalan Tol Transjawa (JTT) terlambat, tidak ada deleveraging, tidak ada pemangkasan suku bunga, dan penundanaan kenaikan tarif tol.
Baca Juga
Begini Dampaknya bagi Jasa Marga (JSMR), Jika Divestasi 35% JTT Molor dari Jadwal
BRI Danareksa Sekuritas, dalam scenario terburuk, memperkirakan laba inti perseroan berpotensi meningkat menjadi Rp 3,16 triliun tahun 2024, menjadi Rp 3,64 triliun pada 2025, dan Rp 3,85 triliun pada 2026.
Sedangkan prospek kinerja keuangan JSMR dengan asumsi seluruh scenario berjalan sesuai ekspektasi, laba inti JSMR bisa meningkat menjadi Rp 3,16 triliun tahun ini, meningkat menjadi Rp 4,20 triliun pada 2025, dan menjadi Rp 4,40 triliun pada 2026.
Terkait dengan potensi beban bunga yang harus dikeluarkan perseroan ke depan, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, cenderung meningkat senilai Rp 720 miliar tahun 2025. Peningkatan ini sudah mempertimbangkan adanya deleveraging dan penurunan suku bunga pinjaman. Dengan demikian beban bunga perseroan tahun ini diperkirakan Rp 4,4 triliun dan diharapkan turun menjadi Rp 3,8 triliun.
Baca Juga
Jasa Marga (JSMR) Targetkan Divestasi 35% JTT ke Perusahaan Salim Tuntas September
Sedangkan total bunga yang harus dikeluarkan perseroan, apabila tidak ada deleveraging dan penurunan suku bunga, beban bunga perseroan diperkirakan hanya mencapai Rp 4,1 triliun tahun 2025 atau lebih rendah dari perkiraan tahun 2024.
Berbagai factor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JSMR dengan target harga Rp 6.500. Target harga tersebut telah mempertimbangkan peluang mudurnya transaksi divestasi 35% JTT dan beban bunga yang berlebihan.
Grafik IHSG

