OPEC+ Tunda Kenaikan Produksi Minyak, Bagaimana Pengaruh ke Emiten Migas?
JAKARTA, investortrust.id - OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk menunda kenaikan produksi minyak mentah sebesar 180 ribu barel per hari (bpd) selama dua bulan. Sebelumnya, kenaikan produksi tersebut dijadwalkan dimulai pada Oktober 2024.
Menurut riset Stockbit, peninjauan ulang tersebut dilakukan setelah harga minyak mentah (brent) anjlok di bawah US$ 73 per barel pada pekan lalu. Ini mencapai level terendahnya sejak akhir 2023.
Baca Juga
Begini Prospek Saham Batu Bara di Tengah Koreksi Harga Minyak, Saham ADRO Pilihan Teratas
Turunnya harga minyak mentah tersebut disebabkan oleh masih lemahnya data ekonomi Cina dan Amerika Serikat. Negara tersebut merupakan konsumen minyak terbesar dan kedua di dunia, sehingga pelemahan ekonominya memberikan sinyal bahwa permintaan minyak global cenderung lemah.
Selain itu, potensi peningkatan produksi dari Libya sebagai salah satu eksportir minyak mentah dunia dengan produksi 1,2 juta barel per hari berimbas pada penurunan harga minyak mentah. Produsen minyak terbesar di Afrika itu mengalami konflik domestik dalam beberapa pekan terakhir.
Membatasi Penurunan Kinerja
Oleh sebab itu, tim riset Stockbit menilai penundaan kenaikan produksi oleh OPEC+ dapat mencegah surplus produksi minyak yang berlebihan, dan mencegah turunnya harga minyak mentah ke level yang lebih rendah. Hal ini dapat membatasi potensi penurunan kinerja emiten produsen migas, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
“Kami berpandangan bahwa OPEC+ akan kembali menunda penambahan produksi, apabila harga minyak belum juga menguat,” tulis tim riset Stockbit dikutip pada Senin (9/9/2024).
Baca Juga
Di samping, bagi emiten penunjang hulu migas seperti PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS), PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD), dan PT Elnusa Tbk (ELSA), harga minyak saat ini masih tergolong cukup baik. Meski demikian, risiko pelemahan harga lanjutan perlu dipantau.
Perusahaan pengeboran offshore Amerika Serikat Valaris menyebut, 91% emiten yang melakukan eksplorasi pada sumur migas lepas pantai masih mengalami keuntungan, selama harga minyak berada di atas level US$ 70 per barel. Senin ini (9/9/2024), harga minyak kembali menguat. Menurut data Trading Economics, harga minyak mentah pada pukul 14.35 WIB berada di US$ 68,58 per barel. Angka ini naik 1,35% dibandingkan hari sebelumnya. Sedangkan harga minyak brent menguat 1,31% dari hari sebelumnya menjadi US$ 71,98 per barel.
Oleh sebab itu, analis MNC Sekuritas Herditya T Wicaksana merekomendasikan wait and see untuk saham WINS dengan support Rp 468 dan resistance Rp 494. Ia merekomendasikan spec buy saham LEAD dengan support Rp 86, resistance Rp 94, dan target price Rp 95-100. Selain itu, trading buy ELSA dengan support Rp 462, resistance Rp 488, dan target price Rp 500-520.

