Harga TON Balik Arah, Pendiri TRON Justin Sun hingga Elon Musk Dukung Pembebasan Bos Telegram Pavel Durov
JAKARTA, investortrust.id - Justin Sun, pendiri TRON, turun tangan untuk mendukung CEO TelegramPavel Durovyang saat ini menghadapi masalah hukum di Perancis.
Dalam tweet baru-baru ini, Sun menyarankan untuk menyiapkan dana terdesentralisasi, dengan tagar “FreePavel DAO,” dan menawarkan untuk menyumbangkan US$1 juta atau US$ 15,4 miliar dari uangnya sendiri untuk membantu Durov. Namun, rencana ini hanya akan berjalan jika masyarakat mendukungnya dan prosesnya tetap terdesentralisasi.
Mengutip The Crypto Times, Senin (26/8/2024) Sun juga menandai Elon Musk dan Mario Nawfal untuk melibatkan mereka dalam ide tersebut. Sementara itu, Telegram juga telah merilis pernyataan resmi yang mendukung Durov dan mendesak penyelesaian cepat atas situasinya.
Durov dilaporkan ditahan di bandara dekat Paris Sabtu (24/8/2024) lalu. Meskipun beberapa laporan awal mengklaim hal ini terkait dengan praktik moderasi konten Telegram, namun belum ada tuduhan resmi yang dikonfirmasi. Tagar #FreePavel menjadi tren di media sosial, dan banyak komunitas yang mempertanyakan mengapa pemerintah Prancis menargetkan Durov.
Sementara itu,pengguna menyerukan dukungan mereka untuk pembebasan bos Telegram itu lewat hashtag "FreeDurov". Dukungan itu ditunjukkan dalam bentuk pembelian Toncoin (TON) oleh seorang pejabat di DWF Labs senilai US$ 500 ribu. Dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), Grachev menyebut ini sebagai cara kecilnya untuk menunjukkan solidaritas.
Baca Juga
Harga Toncoin Hancur Lebur Seiring Penangkapan Bos Telegram. Bagaimana Nasib TON ke Depan?
"Kami tidak dapat berbuat terlalu banyak, tetapi saya memutuskan untuk mendukung apa yang saya bisa, yakni dengan membeli TON senilai US$500 dan akan menyimpannya di onchain sampai Pavel Durov bebas," tulisnya di X.
Langkah itu menambah daftar panjang orang-orang di komunitas kripto yang menunjukkan dukungan dan menyerukan pembebasan Durov sejak penangkapannya di Prancis. Bahkan Elon Musk ikut mendukung dengan mengunggah tagar #FreePavel.
Baca Juga
Gerak Harga Toncoin
Sementara dilansir dari Cointelegraph, koin asli dari The Open Network yang awalnya dikembangkan oleh aplikasi pesan Telegram, Toncoin (TON), mengalami lonjakan tajam dalam minat terbuka (open interest) setelah penangkapan bos Telegram Pavel Durov.
Menurut data dari CoinGlass, berselang hanya beberapa jam setelah laporan penangkapannya muncul, open interest (OI) Toncoin melonjak 32% menjadi US$ 303,09 juta. Para trader nampaknya berbondong-bondong masuk setelah harga TON anjlok akibat berita tersebut.
Sementara itu, melalui sebuah postingan X pada 25 Agutus 2024, seorang trader kripto pseudonim, Daan Crypto Trades, memprediksi bahwa sebagian besar dari mereka adalah pedagang yang mengharapkan penurunan lebih lanjut. “Sebagian besar ini pasti short/hedging,” tambahnya.
Ketika ketakutan dan ketidakpastian memasuki pasar, terutama terkait dengan pendiri token kripto, eksekutif, atau perusahaan yang lebih luas, biasanya para pedagang mengambil posisi seperti ini.
Namun, Daan Crypto Trades mengklaim bahwa berdasarkan alasan penangkapan Durov, dia secara pribadi berpikir bahwa Durov akan dibebaskan dengan cepat. Meskipun begitu, dia memperingatkan 380.300 pengikutnya di X untuk tidak mengambil posisi short yang sama, mengingatkan mereka untuk “selalu berhati-hati saat menangkap pisau jatuh.”
Pernyataan Resmi
Pihak perusahaan Telegram akhirnya mengirimkan pernyataan resminya terkait penahanan Pendiri dan CEO, Pavel Durov, di Perancis. Telegram mengatakan mematuhi hukum di Uni Eropa dan Pavel Durov tak bermaksud menyembunyikan apapun. Hal itu disampaikan Telegram melalui kanal resmi mereka di Telegram, yakni "Telegram News" pada pukul 02.03 WIB dini hari tadi.
Secara resmi Telegram mematuhi hukum dan undang-undang yang berlaku di Uni Eropa termasuk Prancis. Bahkan tersirat pesan bahwa pemilik platform tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas penyalahgunaan oleh pengguna di dalam platform itu.
"Telegram mematuhi hukum Uni Eropa, termasuk Digital Services Act perihal moderasi pesan di platform kami sesuai dengan standar industri dan terus disesuaikan. CEO Telegram Pavel Durov pun tidak memiliki apa pun yang disembunyikan dan memang sering bepergian ke Eropa. Mengklaim bahwa sebuah platform atau pemiliknya bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform tersebut adalah hal yang absurd. Hampir satu miliar pengguna di seluruh dunia menggunakan Telegram sebagai sarana komunikasi dan sumber informasi penting. Kami menantikan penyelesaian situasi ini dengan segera. Telegram selalu bersama kalian semua," tulis Telegram.
Di pernyataan itu Telegram merujuk pada pernyataan resmi Pavel Durov di Telegram pada 13 Maret 2024 lalu, bahwa semua aplikasi media sosial besar mudah menjadi sasaran kritik, karena konten yang mereka tampung.
"Saya tidak dapat mengingat adanya platform sosial besar yang moderasinya secara konsisten dipuji oleh media tradisional. Liputan media tentang upaya moderasi Meta (Facebook-Red) secara khusus sangat negatif sepanjang sejarahnya. Yang menarik, Meta juga merupakan perusahaan media sosial pertama yang mencapai valuasi lebih dari satu triliun dolar,” sebutnya.
Di sisi lain, pihak aparat hukum ataupun Pemerintah Perancis belum memberikan pernyataan resmi hingga detik ini. Namun dilansir dari Washington Post, pihak Perancis dijadwalkan memberikan pernyataan resmi pada Senin hari ini.
Sebelumnya dikabarkan bahwa Pavel Durov yang juga dikenal sebagai perintis blockchain TON itu ditangkap oleh kepolisian di bandar udara Le Bourget di utara Paris pada Sabtu malam. Dilansir dari Le Monde dan media Prancis lainnya, Durov ditangkap setelah mendarat dengan jet pribadinya yang datang dari Azerbaijan. Durov memang memegang dua kewarganegaraan, yakni Uni Emirat Arab (sejak 2017) dan Perancis (sejak 2021).
AFP melaporkan bahwa dugaan pelanggaran meliputi penipuan, perdagangan narkoba, perundungan siber, dan kejahatan terorganisir. Banyak laporan mencatat bahwa penyelidikan ini berakar pada dugaan kurangnya moderasi konten di Telegram. Beberapa laporan mencatat bahwa Durov bisa menghadapi hukuman hingga 20 tahun penjara karena sifat dugaan pelanggaran tersebut.

