Imbal Hasil SBN 10 Tahun Turun, Investor Asing Kabur Boyong US$ 259 Juta
JAKARTA, investortrust.id – Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia 10 tahun dilaporkan turun 45 basis points (bps) pada awal kuartal III-2024 menjadi 6,81%. Pada periode sama yakni 1 Juni-7 Agustus 2024 (quarter to date/qtd), Pasar SBN Indonesia turut menunjukkan arus keluar investasi asing sebesar US$ 259 juta.
Chief Economist PermataBank Josua Pardede menjelaskan, perkembangan pasar obligasi atau bond yield benchmark series pada kuartal III-2024 secara keseluruhan turun.
Walau pada Juni 2024 ada beberapa perkembangan terkait pendapatan pemerintah (arah fiskal), namun arah suku bunga global yakni The Fed tetap cenderung mendominasi.
“Sehingga saat ada ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, pasar obligasi pun mengalami penurunan yield,” ujar Joshua dalam PIER Economic Review: Mid-Year 2024 secara virtual, Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
Pada kesempatan yang sama, data yang dikumpulkan Bank Permata juga memperlihatkan perkembangan imbal hasil surat utang negara pemerintah AS (US Treasury). Saat ini imbal hasil US treasury 10 tahun adalah 3,94% atau turun 45 bps pada penutupan Rabu kemarin.
Sedangkan sejak awal 2024 (year to date/ytd), yield US Treasury 10 tahun tercatat naik 6 bps.
“Secara tahun kalender naik 6 bps meski di sini kita lihat jelas sepanjang kuartal ketiga tahun ini penurunannya sudah mulai cukup signifikan atau besar,” sambung Joshua.
Selanjutnya yield surat utang negara Eropa yakni Euro Zone juga mengalami penurunan yakni 23 bps menjadi 2,27%. Sedangkan sejak awal tahun, yield Euro Zone terhitung naik 24 bps.
Baca Juga
Meski imbal hasil SUN Indonesia tenor 10 tahun turun 26 bps pada awal kuartal ketiga tahun ini, secara tahunan yield SUN sudah turun 33 bps sejak awal 2024 (ytd).
“Jadi momentumnya kami melihat bahwa dari sisi kinerja, mempertimbangkan kinerja semester pertama secara global dan terkait inflasi, tenaga kerja, ekonomi global,” jelas Joshua.
Dengan begitu, pelaku pasar merespons dengan ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga mulai semester II-2024. “Hal ini memberikan risk on sentimen kepada pasar keuangan negara berkembang,” sambungnya. (CR-10)

