Bahana: Hari Keagamaan Jadi Katalis Pertumbuhan PDB
JAKARTA, investortrust.id - Perekonomian tumbuh sebesar 5,05% year on year (yoy) dan 3,79% quarter on quarter (qoq), atau relatif sejalan dengan ekspektasi konsensus sebesar 5,00% yoy dan 3,72% qoq pada kuartal II-2024.
Jika menilik dari riset Bahana, salah satu pendorong terbesar dari pertumbuhan PDB kuartal II-2024 adalah konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang tumbuh sebesar 9,98% yoy, dan menyumbang 15% dari pertumbuhan tahunan.
“LNPRT biasanya melonjak sebelum dan selama periode pemilihan dan menurun setelahnya. Konsumsi non rumah tangga masih mencatat pertumbuhan 9,98% yoy pada triwulan II 2024, relatif kuat dibandingkan periode non pemilu,” tulis Head of Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dan Ekonom Bahana Sekuritas Drewya C dalam risetnya yang dikutip Selasa (6/8/2024).
Baca Juga
IHSG Tersungkur Akibat Data Non-Farm Payrolls AS Jatuh, Bahana Sekuritas Unggulkan Saham Komoditas
Menurut BPS, peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya kegiatan di lembaga keagamaan selama kuartal II 2024, yaitu pada hari raya Idulfitri, Kenaikan Isa Al-Masih, Waisak, dan Iduladha. Perlu dicatat bahwa peristiwa tersebut bersifat musiman, sehingga dampak konsumsi non rumah tangga hanya bersifat sementara.
“Ada kemungkinan bahwa sebagian besar konsumsi untuk musim perayaan terjadi pada kuartal I tahun 2024. Namun, meskipun demikian, konsumsi rumah tangga secara berturut-turut mencatat pertumbuhan di bawah 5% selama tiga triwulan,” terangnya.
Sementara BPS mengaitkan pertumbuhan PDB dengan kondisi domestik, konsumsi rumah tangga hanya mencatat pertumbuhan 4,93% yoy, relatif tidak berubah dari kuartal I 2024 yaitu 4,91%, namun melemah signifikan dibandingkan dengan kuartal II 2023 yaitu 5,22%. Menurut Bahana, sektor pendorong konsumsi rumah tangga kuartal II 2024 adalah sektor restoran dan hotel yang sejalan dengan peningkatan jumlah hari raya keagamaan
“Sementara, sektor yang kinerjanya lemah adalah tekstil dan transportasi, yang sejalan dengan pembelian otomotif, yang menunjukkan penurunan penjualan kendaraan 4W sebesar 19,4% dibandingkan tahun lalu,” tuturnya.
Baca Juga
Bahana: Interest Rate Swap Tunjukkan 100% Potensi Pemangkasan Suku Bunga di September
Lebih lanjut, alokasi belanja oleh pemerintah turun signifikan dari pertumbuhan 19,9% yoy sebelumnya pada kuartal I-2024, tumbuh hanya 1,4% yoy karena basis yang tinggi tahun lalu dan memudarnya belanja pemilu. Oleh sebab itu, Bahana menilai katalis untuk kuartal III dan IV 2024 dapat berasal dari pemilihan daerah pada bulan November 2024, yang dapat mendorong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Selain itu, pemerintah telah memutuskan untuk melanjutkan pencairan bantuan sosial tiga kali lagi di Semester II 2024.
Di samping itu, terdapat peningkatan moderat dalam ekspor dan investasi ekspor neto yang telah berhasil mencatat pertumbuhan positif setelah negatif pada kuartal sebelumnya. Ekspor tumbuh 8,28% yoy, sementara impor tumbuh 8,57% yoy pada kuartal II 2024.
Menurut catatan BPS, peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan nilai dan volume ekspor beberapa komoditas unggulan Indonesia, seperti batu bara, nikel, perhiasan, mesin, dan peralatan listrik.
“Kami melihat risiko dari harga minyak yang lebih tinggi. Jika ketegangan geopolitik meningkat dari Iran dan Israel, Indonesia, sebagai pengimpor minyak neto, akan berisiko,” tulis riset Bahana.
Sementara itu, Gross Fixed Capital Formation (GFCF) naik 4,43% yoy, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya, tetapi rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu. Komponen yang mendorong peningkatan investasi ini adalah mesin dan bangunan. Minggu lalu, PMI manufaktur berada pada titik terendah sejak 2021 di angka 49,3 (tingkat kontraksi), yang kami lihat sebagai tanda lemah dari produsen.
“Risiko penurunan termasuk investasi yang lebih lemah yang akan datang dari sentimen perlambatan produksi dan pembelian bahan baku,” pungkasnya. (CR-4)

