Bahana: Interest Rate Swap Tunjukkan 100% Potensi Pemangkasan Suku Bunga di September
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bahana mengatakan bahwa interest rate swap (IRS) yang terjadi saat ini menunjukkan potensi 100% dari penurunan suku bunga Federal Funds Rate pada bulan September.
“Model probabilitas tingkat suku bunga (WIRP) ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga di AS pada bulan September telah sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar, yang kini melihat kemungkinan 60-70% dari 4 kali penurunan suku bunga (pengurangan kumulatif 100 bps) yang akan dilakukan dalam empat pertemuan Fed berikutnya,” tulis Head of Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dan Ekonom Bahana Sekuritas Drewya C dalam risetnya yang dikutip Kamis (18/7/2024).
Walaupun demikian, Bahana menilai bahwa pasar tidak selalu benar. Sebelumnya pada bulan Januari, diramalkan akan terjadi 8 kali penurunan suku bunga pada tahun 2024, dengan penurunan suku bunga pertama diperkirakan terjadi pada bulan Maret. Pada akhirnya, pemangkasan itu tidak terjadi, kemudian diikuti dengan pelonggaran pada bulan September dengan probabilitas 100%.
Baca Juga
Di samping itu, minyak memegang kunci prospek inflasi AS di masa depan. Apabila The Fed memangkas suku bunga sementara harga minyak tetap US$ 85 per barel, hal ini akan melonggarkan kondisi keuangan sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan bisa memicu inflasi.
“Perlu dicatat bahwa meskipun data ekonomi AS melemah, harga minyak tetap tangguh, hal ini menunjukkan tekanan inflasi yang terus-menerus dari sektor energi, yang menyumbang 39% dari bobot CPI AS,” ujar Satria dan Drewya.
Baca Juga
Kabar Baik, The Fed Tak Akan Menunggu Sampai Inflasi 2% untuk Pangkas Suku Bunga
Selain itu, Bahana meminta kepada investor untuk memperhatikan obligasi pemerintah Jepang (JGB) yang mempengaruhi arah imbal hasil global. Bank of Japan saat ini sedang mempertimbangkan pengurangan pembelian obligasi, yang saat ini ditetapkan pada US$ 40 miliar per bulan di bawah program pengetatan kuantitatif.
“Menurut pandangan kami, tekanan ke atas pada imbal hasil obligasi Jepang akibat potensi kenaikan suku bunga BoJ dan QT akan mengurangi potensi kenaikan Treasury AS dan aset pendapatan tetap global lainnya,” pungkasnya.

