Astra (ASII) Raup Laba Atribusi Rp 15,85 Triliun di Semester I-2024
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 15,85 triliun pada semester I-2024. Keuntungan tersebut turun dari pencapaian periode sama tahun lalu Rp 17,44 triliun.
Manajemen ASII dalam rilis laporan kinerja keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/7/22024) menyebutkan, penurunan laba tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan perseroan dari Rp 162,39 triliun menjadi Rp 159,96 triliun.
Baca Juga
Sejalan dengan penurunan pendapatan tersebut, ASII mencatatkan penurunan beban pokok pendapatan dari Rp 125,76 triliun menjadi Rp 124,36 triliun. Laba bruto juga turun dari Rp 36,63 triliun menjadi Rp 35,60 triliun.
Penuruann laba juga dipengaruhi atas penyesuaian nilai wajar investasi di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari sebelumnya untung Rp 130 miliar menjadi rugi Rp 817 miliar. Begitu juga dengan investasi di PT Medikaloka Hermina Tbk (MIKA) menjadi rugi Rp 34 miliar, dibandingkan sebelumnya untuk Rp 102 miliar.
Sejumlah factor tersebut menadikan laba periode berjalan perseroan turun dari Rp 23,43 triliun menjadi Rp 20,42 triliun. Sedangkan laba per saham dasar perseroan turun dari Rp 431 menjadi Rp 392 per saham.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Christian Sitorus dan Richard Jerry dalam riset yang diluncurkan pekan lalu tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 5.100.
Target tersebut telah mempertimbangkan peningkatan kompetisi pasar otomotif, seiring dengan gencarnya pabrikan China menggarap pasar otomotif dalam negeri. Peningkatan persaingan harga bisa memicu kenaikan harga jual mobil baru tertahan, sehingga bisa berimbas terhadap ASII.
Baca Juga
Toyota Punya Gacoan Innova Zenix untuk Pasar Mobil Hybrid Indonesia
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan segmen mobil hybrid bisa menjadi andalan perseroan untuk memperkuat dominasi di pasar otomotif dalam negeri. Apalagi hingga kini, pangsa pasar penjualan mobil hybrid masih rendah mencapai 6% dari total penjualan mobil hingga semester I-2024.
“Penjualan mobil hybrid masih menawarkan pasar yang traktif bagi astra, karena segmen ini masih rendah kompetisi,” terangnya.
Rekomendasi beli tersebut juga mempertimbangkan peluang pemulihan penjualan otomotif Astra International (ASII) pada paruh kedua tahun ini. Meskipun perseroan belum meluncurkan mobil Toyota Avanza pada GIIAS lalu.
Terkait kinerja keuangan, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, laba bersih Astra International (ASII) diharapkan mencapai Rp 30,06 triliun tahun ini, dibandingkan tahun lalu Rp 33,83 triliun. Pendapatan perseroan diprediksi turun dari Rp 316,56 triliun menjadi Rp 293,84 triliun.
Grafik ASII

