Anjlok 82%, Vale Indonesia (INCO) Catat Laba Bersih Rp 611 Miliar di Semester I-2024
JAKARTA, investortrust.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 37,28 juta atau sekitar Rp 611,26 miliar (kurs per dolar Rp 16.394).
Jumlah tadi menunjukan penurunan sebesar 82,05% secara year on year (yoy) dari posisi US$ 207,80 juta atau sekitar Rp 3,41 triliun pada periode yang sama tahun 2023.
Sementara itu secara kuartalan INCO mencatat laba sebesar US$ 31,1 juta per kuartal II-2024 atau naik signifikan dari kuartal I-2024 yang tercatat sebesar US$ 6,2 juta.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Febriany Eddy mengatakan, laba ini muncul setelah memperhitungkan kerugian yang belum terealisasi sebesar US$ 6,1 juta atas pengakuan nilai wajar aset derivatif (hak partisipasi dalam investasi Perseroan di PT Kolaka Nickel Indonesia).
Baca Juga
"Penting untuk digarisbawahi bahwa esensi dari penyesuaian harga derivatif ini adalah kerugian yang tidak terealisasi yang bersifat non-operasional. Oleh karena itu, jika dinormalisasi, kami mencatat laba sebesar US$ 35,9 juta pada kuartal II-2024, lebih tinggi 122% dibandingkan dengan laba pada triwulan sebelumnya," urainya dalam keterangan tertulis, Senin (29/7/2024).
Sementara itu, INCO mencatat angka pendapatan sebesar US$ 478,7 juta atau sekitar Rp 7,83 triliun per semester I-2024 turun 27,34% secara year on year (yoy) dari US$ 658,90 juta pada semester I-2023.
Sedangkan secara kuartalan tercatat pertumbuhan pendapatan sebesar 8% di kuartal II-2024 menjadi sebesar 248,8 juta. Pada kuartal I-2024 pendapatan INCO tercatat sebesar US$ 229,90 juta.
Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh harga realisasi rata-rata nikel yang lebih tinggi pada kuartal II-2024.
Harga realisasi rata-rata nikel meningkat 12% menjadi US$ 14.214 per ton pada kuartal II-2024, naik dari US$ 12.651 per ton pada kuartal I-2024. Selain itu INCO mencatat penjualan sebesar 17.505 metrik ton nikel matte per kuartal II-2024. Angka penjualan ini turun dari sebesar 18.175 MT per kuartal I-2024.
Sejalan dengan penurunan pengiriman pada triwulan tersebut, beban pokok pendapatan Perseroan menurun dari US$ 209,8 juta pada kuartal I-2024 menjadi US$ 207,3 juta pada kuartal II-2024.
Baca Juga
Valuasi Murah, Saham Vale Indonesia (INCO) Berpotensi Menuju Rp 5.300
Disampaikan, penurunan total beban pokok pendapatan juga didukung oleh penurunan konsumsi bahan bakar dan batu bara pada kuartal II-2024, disertai dengan penurunan harga batu bara.
“Meskipun kondisi pasar yang tidak menentu, kami tetap berkomitmen untuk mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya,” lapor Febriany Eddy.
Sementara itu, kas dan setara kas Perseroan meningkat menjadi US$ 832,1 juta pada 30 Juni 2024, naik dari sebelumnya US$ 730,8 juta pada 31 Maret 2024.
"PT Vale mengeluarkan belanja modal sekitar US$ 61,0 juta pada triwulan II-2024, meningkat dari US$ 57,4 juta pada triwulan I-2024. ‘’Kami akan terus menerapkan manajemen kas secara hati-hati untuk menjaga ketersediaan kas," katanya.
Lebih lanjut dikatakan, Perseroan tetap berkomitmen untuk memprioritaskan peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya, memastikan daya saing jangka panjang sambil menerapkan praktik-praktik pertambangan yang baik untuk mencapai tujuannya.
"Memasuki semester kedua tahun ini, kami akan terus proaktif mendorong inisiatif penghematan biaya untuk memastikan biaya tunai per unit tetap kompetitif dalam upaya menghasilkan margin yang sehat secara berkelanjutan," ulasnya.
Sementara terkait perubahan komposisi pemegang saham baru-baru ini, Manajemen INCO mengaku melihat banyak ruang untuk memanfaatkan inisiatif strategis yang dapat membawa sinergi positif bagi perusahaan, seperti integrasi upaya pengadaan dalam grup untuk harga komoditas yang lebih baik di mana hal ini merupakan salah satu penggerak biaya terbesar Perseroan.
Grafik Harga Saham INCO secara Ytd:

