Usai Tuntaskan Penambahan Modal, Jaya Agra (JAWA) Siapkan Aksi Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) akan menambah porsi saham publik (free float) paling lambat dua tahun ke depan setelah penyelesaian penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMHTHMEDT) dengan menerbitkan sebanyak 12,45 miliar saham.
Sebagaimana diketahui aksi korporasi tersebut membuat total kepemilikan PT Sarana Agro Investama di JAWA meningkat drastis dari semula hanya 80% menjadi 95,34%. Sedangkan porsi saham publik tergerus dari 19,99% menjadi 4,65% atau di bawah ketentuan minimal free float saham emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga
Transaksi Saham Jaya Agra (JAWA) Dibuka Kembali, Penguatan Bakal Berlanjut?
Perseroan sebelumnya telah menuntaskan PMHTHMETD dengan menerbitkan sebanyak 12,45 miliar saham atau setara dengan Rp 1,24 triliun. Penerbitan saham ini bertujuan untuk mengoversi utang pemegang saham menjadi saham perseroan.
“Jumlah saham free float JAWA menyusut menjadi 4,65% setelah pelaksanaan PMHTHMETD. Oleh karena itu, perseroan akan tetap berkomitmen untuk memenuhi free float sebanyak 7,5% dari total saham perseroan paling lambat dalam 2 tahun ke depan,” ujar Sekretaris Perusahaan JAWA Harli Wijayadi dalam penjelasan resminya di Jakarta, Jumat (24/11/2023).
Perseroan sebelumnya menyebutkan bahwa melalui PMHTHMEDT ini, perseroan akan mengonversi utang sebanyak Rp 1,24 triliun menjadi 12,45 miliar saham baru. Utang yang dikonversi merupakan pinjaman dari pemegang saham pengendali perseroan. Dengan aksi tersebut total liabilitas perseroan turun tajam dari Rp 3,57 triliun menjadi Rp 2,32 triliun.
Baca Juga
“Dengan transkasi ini, perseroan dapat memperbaiki posisi keuangan, yaitu rasio utang akan lebih sehat, beban keuangan berkurang, serta arus kas yang lebih kuat di masa mendatang. Hal ini diharapkan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham perseroan,” tulis manajemen dalam prospektusnya.
Aksi korporasi tersebut akan direalisasikan setelah ada persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPSLB) perseroan pada 23 Oktober 2023.
Hingga semester I-2023, rugi bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertambah dari Rp 89,74 miliar menjadi Rp 173,46 miliar. Penurunan dipengaruhi atas besarnya beban keuangan hingga Rp 124,73 miliar bersamaan dengan penurunan penjualan menjadi Rp 446,72 miliar.

