Gangguan Selat Hormuz Jadi Ancaman, Chandra Asri (TPIA) Percepat Diversifikasi Pasokan Nafta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bakal menyiapkan alternatif pasokan bahan baku utama industri petrokimia, yakni nafta untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Tbk Suryandi menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan korporasi saat ini adalah mengembangkan fasilitas condensate splitter unit (CPU) di Singapura yang ditargetkan rampung pada 2027.
Pasalnya, Suryandi menyebutkan, nafta merupakan bahan baku utama industri petrokimia. Sehingga, gangguan pasokan melalui Selat Hormuz menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan karena sekitar 80% kebutuhan nafta Chandra Asri harus melewati jalur pelayaran tersebut.
"Dengan adanya disrupsi terhadap pasokan dari Selat Hormuz, itu membuat kami lebih cepat agar rantai pasok ataupun alternatif nafta tersebut dapat kita cari pasokannya, bukan hanya tergantung dari Middle East," ujar Suryandi dalam diskusi Forwin di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Fasilitas condensate splitter unit (CPU) yang juga tengah dibangun di Cilegon, Banten tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 300.000 barel per hari dan diproyeksikan menghasilkan bahan baku alternatif yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan industri petrokimia.
Baca Juga
Laba Atribusi Chandra Asri (TPIA) Anjlok 78,43% hingga September 2026, Ini Pemicunya
Suryandi menjelaskan, fasilitas tersebut diperkirakan mampu menghasilkan bahan baku alternatif setara 2,5 juta ton per tahun. Kehadiran fasilitas ini diharapkan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan ketika terjadi gangguan pasokan naphtha dari negara-negara Timur Tengah.
"Condensate splitter ini akan menghasilkan bahan baku alternatif untuk naphtha. Secara setahun itu setara dengan 2,5 juta ton untuk industri. Nah, itu satu opsi atau pilihan yang sangat positif dan memberikan fleksibilitas kepada Chandra Asri," jelasnya.
Meski demikian, Suryandi menegaskan pengembangan fasilitas tersebut bukan berarti perusahaan akan sepenuhnya menghentikan impor nafta. Pasokan impor tetap dibutuhkan, tetapi perusahaan memiliki alternatif sumber bahan baku apabila terjadi gangguan rantai pasok global.
"Kita tetap impor naphtha, tapi ini menjadi alternatifnya apabila ada terjadi gangguan lagi. Misalnya pabrik di Middle East ada gangguan, lalu pasokannya juga terganggu, kita akan punya alternatif," katanya.
