Target Harga Saham Bank Jago (ARTO) Dipangkas Saat Laba Naik, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) dipangkas menjadi Rp 1.300 dari sebelumnya Rp1.900. Revisi turun ini mencerminkan penyesuaian proyeksi pertumbuhan kredit dan penurunan ekspektasi imbal hasil ekuitas (return on equity/ROE) jangka panjang perseroan.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ARTO. Keputusan tersebut didukung oleh perbaikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), peningkatan pendapatan nonbunga, serta efisiensi operasional yang lebih baik pada kuartal III-2026.
Baca Juga
Laba Bank Jago (ARTO) Melesat 50% Jadi Rp 298 Miliar hingga September 2026
Hingga kuartal III-2026, ARTO berhasil raup laba bersih Rp 298 miliar atau meningkat 50% yoy. Pencapaian tersebut setara 74% dari proyeksi laba analis untuk tahun buku 2026, sehingga dinilai sesuai ekspektasi (inline). Kenaikan ini ditopang pertumbuhan pendapatan bunga serta kenaikan NIM sebesar 35 basis poin menjadi 9%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Nataniella Eva Kezia dan Victor Stefano mengatakan, revisi turun target harga saham ARTO mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan kredit Bank Jago untuk periode 2026-2028 sebesar 10-20%, menyusul pandangan manajemen yang lebih konservatif terhadap ekspansi pinjaman.
Manajemen kini memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 15-17%, lebih rendah dibandingkan panduan sebelumnya sebesar 25-30%. Untuk 2027, manajemen memberikan indikasi awal pertumbuhan kredit sebesar 15%-20%.
“Perubahan panduan tersebut mencerminkan perlambatan pertumbuhan kredit melalui kemitraan. Pada kuartal III-2026, penyaluran kredit melalui mitra hanya tumbuh 1,6% secara kuartalan di tengah perlambatan pertumbuhan mitra,” tulisnya.
Baca Juga
Rupiah Bisa Tembus Rp 21.000 Jika Praktik Goreng Saham Tak Dihentikan
Secara keseluruhan, kredit Bank Jago masih tumbuh 5% secara kuartalan dan 19% yoy menjadi Rp 27,9 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 4% secara kuartalan dan 21% yoy. Kualitas aset juga menjadi perhatian. Rasio loan at risk (LaR) meningkat menjadi 8,7%, naik 98 basis poin secara kuartalan dan 276 basis poin secara tahunan. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) naik 10 basis poin secara kuartalan menjadi 0,9%.
Sejalan dengan penyesuaian proyeksi kredit, BRI Danareksa Sekuritas merevisi estimasi laba bersih Bank Jago untuk 2026, 2027, dan 2028 masing-masing sebesar naik 3%, tidak berubah, dan turun 11%. Revisi tersebut memperhitungkan pertumbuhan kredit yang lebih rendah, tetapi diimbangi prospek NIM yang lebih baik. Peningkatan NIM dan efisiensi operasional menjadi faktor pendukung yang membuat analis tetap mempertahankan rekomendasi Buy.
Di sisi lain, penurunan proyeksi ROE jangka panjang menjadi 16,1% dari sebelumnya 19,7% menjadi faktor utama pemangkasan target harga saham ARTO menjadi Rp 1.300 dari Rp 1.900. Saat ini, saham ARTO diperdagangkan pada valuasi 0,8 kali proyeksi nilai buku (price to book value/PBV) 2026.
