Tiga Katalis Kebangkitan Astra (ASII): Laba, Dividen, dan Buyback Saham
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan PT Astra International Tbk (ASII) memasuki perbaikan pada 2027 setelah menghadapi tekanan laba pada 2026. Pemulihan tersebut ditopang peningkatan produksi tambang emas Martabe, normalisasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta ketahanan bisnis otomotif dan jasa keuangan.
Analis Sucor Sekuritas Karen Chow mengatakan, laba bersih ASII pada 2026 mencapai Rp 28,6 triliun, turun 12,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun, jika tidak memperhitungkan beban satu kali (one-offs), laba inti perseroan diperkirakan Rp 31,4 triliun. Proyeksi ini mengindikasikan pemulihan kinerja yang lebih kuat pada semester II-2026. Laba bersih ASII pada periode tersebut diperkirakan mencapai Rp 16,1 triliun, meningkat 29% dibandingkan semester I 2026.
Baca Juga
Astra (ASII) Mau Borong 4,947% Saham AUTO Lewat Tender Sukarela
“Tren pemulihan kinerja ini diprediksi berlanjut pada 2027. Laba ASII bisa naik sebanyak 9,5% menjadi Rp 31,3 triliun dan diperkirakan lanjutkan peningkatan 4,7% menjadi Rp 32,8 triliun pada 2028. Dengan proyeksi tersebut, laba ASII diperkirakan mencatat tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 7,1% selama periode 2026–2028,” tulisnya.
Katalis Buy back Saham
Selain prospek pemulihan laba dan potensi dividen, program pembelian kembali saham (share buyback) ASII senilai Rp 8 triliun turut menjadi faktor pendukung valuasi. Nilai program buyback tersebut setara dengan 4,4% dari kapitalisasi pasar perseroan. Program ini dinilai memberikan dukungan tambahan terhadap valuasi saham ASII.
“Dengan proyeksi laba yang kembali tumbuh pada 2027, potensi dividend yield 9%, serta dukungan program buyback, saham ASII dinilai menawarkan daya tarik investasi untuk mengantisipasi pemulihan kinerja keuangan perseroan,” tulisnya.
Baca Juga
Saham Berjangka AS Menguat, Pasar Dibayangi Inflasi Energi dan Arah Kebijakan The Fed
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 5.200. Target harga tersebut mencerminkan valuasi sebesar 6,7 kali rasio harga terhadap laba (price-to-earnings/P/E) berdasarkan proyeksi 2027 dan 5,7 kali enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA).
Sementara itu, saham ASII diperdagangkan pada valuasi konsensus forward sebesar 5,8 kali P/E dan 5,1 kali EV/EBITDA. Saham ini juga menawarkan potensi imbal hasil dividen (dividend yield) sebesar 9%. “Daya tarik investasi ASII dinilai berasal dari bisnis otomotif terintegrasi, sumber pendapatan yang terdiversifikasi, kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, serta potensi pemulihan kontribusi dari sektor pertambangan,” tulisnya.
