Timah Lagi Panas, Saham Timah (TINS) Siap Bikin Investor Ketiban Cuan Jumbo?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) tengah memasuki tahun penuh keberuntungan didukung didukung prospek kenaikan harga timah dunia, pemulihan volume produksi, dan pertumbuhan kinerja keuangan perseroan pada 2026. Hal ini menjadikan saham TINS sebagai pilihan sepanjang tahun ini.
Prospek kuat tersebut mendorong KB Valbury Sekuritas dalam riset perdananya merekomendasikan beli (buy) saham TINS dengan target harga Rp 4.800 per saham. Target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sebesar 27% dari harga saat ini Rp 3.780 per saham. Saham TINS diperdagangkan pada valuasi 5,1 kali forward enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA), sedangkan target harga tersebut setara dengan 6,5 kali forward EV/EBITDA.
Analis KB Valbury Sekuritas Ashalia Fitri Yuliana menilai, prospek positif TINS ditopang oleh kenaikan permintaan timah dari industri elektronik konvensional, pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), panel surya atau solar photovoltaic (PV), serta kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Baca Juga
Saham Timah (TINS) Bisa Kecipratan Efek ICOMEX, Begini Prospeknya
Tingginya permintaan, Ashalia mengatakan, membuat harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) tetap tinggi mencapai US$50.000 per ton pada 2026, meningkat 46,7% secara tahunan (year on year/YoY). Bahkan, harga timah LME sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 57.960 per ton pada 3 Juni 2026.
“Harga rata-rata timah sejak awal tahun hingga 20 Oktober 2026 mencapai US$51.719 per ton melonjak 56,6%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$33.027 per ton. Kenaikan harga timah berpotensi meningkatkan pendapatan dan profitabilitas TINS,” tulisnya.
Tingginya harga timah juga dipengaruhi pasokan, International Tin Association (ITA) memperkirakan pasar timah global alami defisit 5.300 ton pada 2025 akan beralih menjadi surplus 3.600 ton pada 2026 dan 400 ton pada 2027. “Pemulihan pasokan global berpotensi membatasi kenaikan harga timah dalam beberapa tahun mendatang. Meski demikian, pemulihan produksi timah di Myanmar yang berlangsung bertahap serta penurunan kadar bijih di Provinsi Yunnan, Tiongkok, menjadi faktor yang dapat menahan pertumbuhan pasokan,” tulisnya.
Dari sisi permintaan, industri elektronik konvensional masih menjadi penopang utama. Timah yang digunakan sebagai bahan solder menyumbang sekitar 53% dari konsumsi timah global. Pertumbuhan pusat data AI, panel surya, dan kendaraan listrik juga memberikan dukungan tambahan terhadap permintaan.
TINS Mulai Pulih
Selain kenaikan harga jual, pemulihan volume produksi menjadi faktor penting dalam prospek kinerja TINS. Penguatan pengawasan pertambangan dan kemitraan formal di Indonesia diperkirakan meningkatkan akses perseroan terhadap bijih timah. TINS memiliki 127 wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dengan luas total 473.558 hektare, jaringan mitra yang telah terbentuk, serta fasilitas pengolahan terintegrasi yang mendukung pemulihan produksi.
Pada semester I-2026, produksi bijih timah TINS meningkat 74,8% YoY menjadi 12.232 ton Sn, setara sekitar 40,8% dari target produksi bijih sebanyak 30.000 ton Sn. Produksi logam timah olahan naik 58,2% YoY menjadi 10.865 ton, atau sekitar 37,3% dari target produksi tahunan sebesar 29.100 ton. Sementara itu, penjualan logam timah olahan melonjak 85,1% YoY menjadi 10.984 ton.
Baca Juga
Laba Lampaui Target Setahun Penuh, Timah (TINS) Ajukan Perubahan RKAP 2026
Target harga tersebut juga sejalan dengan pandangan KB Valbury Sekuritas terhadap proyeksi produksi logam timah olahan TINS mencapai 23.000 ton pada 2026, tumbuh 29,1% YoY. Namun, proyeksi tersebut masih sekitar 21% di bawah target produksi 29.100 ton, mencerminkan pemulihan bertahap di tengah ketidakpastian regulasi.
Perbaikan tata kelola pertambangan, percepatan perizinan, dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan produksi lebih lanjut.
Kenaikan harga jual rata-rata dan pertumbuhan volume penjualan diperkirakan mendorong peningkatan signifikan kinerja keuangan TINS pada 2026.
Baca Juga
BEI Resmi Evaluasi IHSG, Saham HSC Tak Lagi Masuk Perhitungan Mulai 2 November 2026
KB Valbury Sekuritas memproyeksikan pendapatan TINS mencapai Rp 21 triliun pada 2026, melonjak 81,8% dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA diperkirakan mencapai Rp 4,8 triliun dengan margin EBITDA relatif stabil di level 22,8%.
Sementara itu, laba bersih TINS diproyeksikan mencapai Rp2,9 triliun, tumbuh 117,8% YoY. Proyeksi tersebut mencerminkan potensi peningkatan profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Sensitivitas kinerja keuangan terhadap harga timah juga menjadi faktor penting. Berdasarkan analisis KB Valbury Sekuritas, setiap perubahan harga timah LME sebesar 1% diperkirakan mengubah pendapatan TINS sekitar 1% dan laba operasi atau EBIT sekitar 2,8% ke arah yang sama, dengan asumsi faktor lainnya tetap.
