Mengenal MSCI, Perusahaan Penyedia Indeks yang Memengaruhi Arah Dana US$21 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nama MSCI menjadi perhatian luas setelah perusahaan penyedia indeks global tersebut membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan sebuah perusahaan yang berkantor pusat di New York itu dapat memengaruhi alokasi investasi lintas negara karena indeksnya digunakan sebagai acuan oleh pengelola dana internasional.
Besarnya pengaruh tersebut terlihat dari nilai aset yang menggunakan indeks MSCI sebagai tolok ukur. Berdasarkan keterangan di situs perusahaan, sekitar US$21 triliun aset kelolaan menggunakan indeks MSCI sebagai acuan, dengan basis data per 31 Desember 2025 yang dilaporkan hingga 31 Maret 2026. Angka tersebut bukan dana yang dikelola MSCI dan tidak seluruhnya merupakan investasi pasif yang wajib meniru komposisi indeks.
MSCI merupakan perusahaan komersial yang menyediakan indeks, data, riset, serta perangkat analisis investasi. Pelanggannya mencakup manajer investasi, pemilik aset institusional, bank, perusahaan asuransi, pengelola kekayaan, dan pelaku pasar keuangan lainnya. Untuk konteks penilaian pasar saham Indonesia, sebutan yang paling tepat bagi MSCI adalah penyedia indeks global.
Baca Juga
BBCA-BBRI-BMRI Berdarah-darah, Saham Bank Murah atau Jebakan Maut?
Nama MSCI berasal dari Morgan Stanley Capital International. Perusahaan ini dahulu merupakan bagian dari Morgan Stanley, kemudian melaksanakan penawaran umum saham pada 2007. Pada Mei 2009, Morgan Stanley melepas kepemilikannya sehingga MSCI menjadi perusahaan publik independen. Dengan demikian, MSCI saat ini tidak tepat dipandang sebagai divisi dari bank investasi Morgan Stanley.
MSCI Inc. tercatat di Bursa New York dengan kode saham MSCI. Sebagai perusahaan publik, kepemilikannya berada pada para pemegang saham. Dokumen Proxy Statement 2026 mencantumkan The Vanguard Group dengan kepemilikan 12,82% dan BlackRock sebesar 8,13%, sebagai dua pemegang saham institusional yang dilaporkan memiliki lebih dari 5%.
Persentase tersebut menggunakan jumlah saham beredar per 27 Februari 2026 dan laporan kepemilikan yang dirujuk dalam dokumen itu, sehingga bukan posisi kepemilikan langsung per Oktober 2026. Kepemilikan saham oleh institusi investasi juga tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mereka menentukan setiap keputusan indeks atau klasifikasi pasar MSCI.
Produk MSCI yang paling dikenal adalah indeks investasi, yakni ukuran yang disusun dengan metodologi tertentu untuk menggambarkan kinerja sekelompok efek. Indeks dapat menjadi pembanding kinerja portofolio sekaligus dasar pembentukan produk investasi, seperti reksa dana indeks dan exchange-traded fund atau ETF.
Baca Juga
Fokus Reformasi Pasar Modal di Tengah Evaluasi MSCI, BEI Pamer Laba Emiten yang Tumbuh 16,25%
Di antara produknya adalah MSCI World untuk saham pasar maju, MSCI Emerging Markets untuk pasar berkembang, serta MSCI ACWI atau All Country World Index yang mencakup pasar maju dan berkembang. MSCI juga menyediakan indeks negara, kawasan, sektor, faktor investasi, dan indeks yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. MSCI ACWI Investable Market Index atau ACWI IMI memperluas cakupan hingga saham berkapitalisasi kecil, selain saham besar dan menengah.
Contoh penggunaan indeks tersebut adalah iShares MSCI Emerging Markets ETF. Produk investasi itu menggunakan indeks MSCI sebagai acuannya, sedangkan pengelolaan dana dilakukan oleh perusahaan pengelola ETF. Hubungan ini memperlihatkan perbedaan antara pembuat indeks dan pengelola uang investor.
Selain indeks, MSCI menyediakan perangkat analisis risiko dan kinerja portofolio. Salah satunya adalah BarraOne, yang membantu investor institusional menganalisis risiko dan kinerja lintas kelas aset, termasuk aset publik dan privat. Perangkat semacam ini digunakan untuk memahami sumber risiko, hubungan antarposisi investasi, dan dampak perubahan kondisi pasar terhadap portofolio.
Layanan lainnya mencakup data dan penilaian keberlanjutan, termasuk ESG atau lingkungan, sosial, dan tata kelola, serta analisis risiko iklim. MSCI juga menyediakan data dan analisis aset privat, termasuk private equity, kredit privat, real estat, dan infrastruktur. Dengan layanan tersebut, bisnis MSCI melampaui penyusunan daftar saham dalam indeks.
Baca Juga
Bukan Delisting! BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG
Adanya produk ESG Ratings tidak berarti klasifikasi pasar MSCI sama dengan peringkat kredit. Penetapan Emerging Market atau Standalone menilai karakteristik dan kelayakan investasi suatu pasar menurut kerangka MSCI. Penilaian ini berbeda dari pemeringkatan kemampuan negara atau perusahaan membayar utang.
Dalam kerangka klasifikasi pasar sahamnya, MSCI mempertimbangkan perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas pasar. Artinya, besarnya ekonomi atau kuatnya laba emiten belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan investor internasional apabila akses transaksi, keterbukaan informasi, atau kemampuan memperdagangkan saham masih menjadi persoalan.
Pengaruh keputusan MSCI terhadap arus dana bekerja melalui mandat investasi. Dana pasif yang mengikuti suatu indeks berusaha menjaga komposisi portofolionya agar mendekati indeks tersebut. Ketika saham ditambahkan, dikeluarkan, atau bobotnya berubah, pengelola dana perlu menyesuaikan eksposurnya sesuai strategi dan ketentuan produk.
Sebagai ilustrasi, jika suatu dana mengikuti indeks Emerging Markets dan saham sebuah negara dikeluarkan dari indeks itu, pengelola dapat perlu mengurangi atau melepas kepemilikannya untuk menjaga kesesuaian portofolio. Penyesuaian tersebut dapat terjadi meskipun sejumlah perusahaan di negara bersangkutan masih membukukan laba yang baik.
Baca Juga
MSCI Dikritik, Pengamat Tantang Regulator RI: Jangan Cuma Ikuti Maunya!
Pengaruhnya juga menjangkau pengelola dana aktif. Mereka memiliki keleluasaan memilih saham, tetapi indeks sering digunakan sebagai pembanding kinerja. Perubahan klasifikasi dapat mendorong evaluasi ulang atas risiko, alokasi negara, dan kesesuaian investasi dengan mandat nasabah. Pasar bahkan dapat bereaksi sebelum keputusan berlaku karena investor mengantisipasi transaksi penyesuaian portofolio. Indeks Emerging dan Frontier MSCI sendiri digunakan oleh dana pasif maupun sebagai pembanding bagi pengelola lainnya.
Dengan demikian, pengaruh MSCI berasal dari luasnya penggunaan produknya dalam industri investasi. Perusahaan ini tidak memiliki kewenangan hukum untuk memerintahkan seluruh investor menjual saham suatu negara. Namun, keputusan indeksnya dapat memicu konsekuensi besar karena terhubung dengan aturan dan mandat investasi para pengguna.
MSCI memperoleh pendapatan dari langganan data dan analisis, lisensi indeks, serta biaya yang dikaitkan dengan nilai aset produk investasi pengguna indeksnya. Model bisnis ini membuat MSCI mendapatkan manfaat komersial dari penggunaan produknya, meskipun perusahaan tersebut tidak mengelola sendiri aset para investor.
Sebagai perusahaan pencari laba, MSCI juga menghadapi potensi konflik kepentingan yang perlu dikelola. Sebagian pemegang saham besarnya sekaligus menjadi pelanggan. Dalam pengungkapan perusahaan, pendapatan pada 2025 dari BlackRock dan afiliasinya mencapai US$339 juta, sedangkan dari Vanguard dan afiliasinya sebesar US$23,3 juta. Hubungan tersebut merupakan fakta komersial, tetapi bukan bukti bahwa kedua pelanggan mengarahkan keputusan klasifikasi negara.
Untuk mengelola risiko tersebut, MSCI menyatakan menerapkan tata kelola melalui komite, pembatasan akses terhadap informasi keputusan indeks sebelum diumumkan, serta aturan transaksi investasi bagi pegawai terkait. Perusahaan juga menerapkan pemisahan informasi internal untuk melindungi informasi yang berpotensi memengaruhi harga. Keputusan klasifikasi pasar termasuk dalam tanggung jawab Index Policy Committee.
Keberadaan mekanisme tersebut penting, tetapi penilaian MSCI tetap dapat diuji melalui keterbukaan metodologi, konsistensi penerapan aturan, dan dasar bukti yang digunakan. Besarnya pengaruh sebuah penyedia indeks tidak menjadikan seluruh penilaiannya kebal terhadap kritik.
Baca Juga
MSCI Pertimbangkan RI Masuk Standalone Market seperti Bosnia dan Panama, Apa Artinya?
Kebijakan politik dan hukum juga dapat berdampak pada indeks. Contohnya, MSCI mengumumkan penghapusan sejumlah saham perusahaan China dari indeks terkait setelah terbitnya Executive Order 13959 Amerika Serikat, dengan pelaksanaan pada Januari 2021. Kasus itu memperlihatkan bagaimana pembatasan investasi oleh pemerintah dapat memengaruhi perlakuan indeks, tetapi tidak membuktikan bahwa setiap keputusan MSCI merupakan intervensi politik.
Dalam kasus Indonesia, MSCI menyatakan kekhawatiran mengenai ketertutupan struktur kepemilikan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya bukti penegakan aturan yang bermakna. MSCI mengakui adanya reformasi yang diumumkan otoritas Indonesia, tetapi menekankan perlunya pelaksanaan konsisten dan dampak perbaikan yang berkelanjutan.
Usulan perubahan klasifikasi Indonesia diumumkan pada 15 Oktober 2026 waktu New York atau 16 Oktober waktu Indonesia. Konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Dengan demikian, usulan tersebut belum merupakan keputusan final reklasifikasi.
Status Standalone menempatkan pasar di luar cakupan MSCI Emerging Markets Index dan MSCI Frontier Markets Index. Status itu tidak melarang seluruh investor asing berinvestasi, tetapi dapat mempersempit akses terhadap dana yang mandatnya mengikuti kedua kelompok indeks tersebut.
Bagi Indonesia, proses konsultasi menjadi ruang untuk menunjukkan hasil reformasi sekaligus meminta kejelasan mengenai indikator, bukti, dan standar penilaian MSCI. Publik perlu memahami bahwa persoalan ini menyangkut hubungan antara kualitas pasar, kepercayaan investor, dan aturan alokasi dana global—hubungan yang membuat keputusan sebuah perusahaan penyedia indeks mampu memengaruhi pasar keuangan suatu negara.
