Fokus Reformasi Pasar Modal di Tengah Evaluasi MSCI, BEI Pamer Laba Emiten yang Tumbuh 16,25%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap fokus menjalankan reformasi pasar modal di tengah usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) Inc agar klasifikasi pasar saham Indonesia diubah dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar tersendiri). BEI juga pamer kinerja keuangan emiten yang secara keseluruhan tumbuh 16,25% secara tahunan (yoy) pada semester I-2026.
“Reformasi pasar modal dilakukan untuk meningkatkan keterbukaan informasi, memperkuat integritas perdagangan, serta menjaga kepercayaan investor,” ujar Direktur BEI, Iding Pardi di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Iding menegaskan, konsultasi yang diumumkan MSCI pada 15 Oktober 2026 belum menghasilkan keputusan final, sehingga reformasi pasar modal tetap menjadi fokus otoritas dan penyelenggara bursa.
“Kami terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kualitas data, dan memastikan akses informasi yang lebih baik bagi investor. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menindaklanjuti perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia,” tandas dia.
Baca Juga
MSCI Dikritik, Pengamat Tantang Regulator RI: Jangan Cuma Ikuti Maunya!
Menurut Iding, sejumlah langkah pembenahan yang dilakukan otoritas bursa mencakup publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, pengayaan informasi kepemilikan, serta penguatan pengawasan perdagangan. BEI bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menyempurnakan metodologi high shareholding concentration (HSC) dengan memperluas cakupan saham yang ditinjau melalui indikator price impact ratio, khususnya saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 5 triliun.
Iding Pardi mengungkapkan, dari sisi likuiditas, BEI meningkatkan batas minimum free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik menjadi 15% secara bertahap. Per 30 September 2026, rata-rata free float emiten mencapai 22,99%. Sebanyak 560 dari 918 emiten atau sekitar 61% telah memenuhi ketentuan tersebut.
BEI, kata dia, juga menyediakan pendampingan melalui sosialisasi, pendekatan langsung kepada emiten, layanan hot desk, serta pembentukan Satgas Monitoring Free Float bersama KSEI dan asosiasi pelaku pasar.
“Kami juga memfasilitasi pertemuan antara perusahaan tercatat dan calon investor melalui roadshow, business meeting, dan public expose live untuk memperluas eksposur perusahaan, sekaligus mendukung pemenuhan ketentuan secara terukur,” tutur Iding.
Iding Pardi menjelaskan, penguatan integritas turut dilakukan melalui penegakan hukum. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan denda dengan total Rp 2,1 triliun terhadap pihak-pihak terkait, terdiri atas Rp 1,5 triliun atas manipulasi pasar terhadap satu emiten dan Rp 600 miliar atas pelanggaran proses penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham dua emiten.
Di tengah pembenahan tersebut, menurut Iding, fundamental perusahaan tercatat masih menunjukkan pertumbuhan. Laba bersih seluruh emiten pada semester I-2026 meningkat 16,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy), sedangkan laba bersih emiten LQ45 tumbuh 18,49% (yoy).
“Sebanyak 74% perusahaan tercatat membukukan laba. Sektor energi mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 78,28%,” ucap dia.
Baca Juga
Gegara MSCI, Market Cap BEI Hangus Rp 1.544 Triliun dalam Sepekan
Iding Pardi juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang turut menopang daya saing pasar domestik. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% (yoy) pada kuartal II-2026, sementara inflasi September tercatat 3,28% (yoy) dan cadangan devisa pada akhir September mencapai US$ 146,3 miliar.
Dia menambahkan, kapitalisasi pasar saham Indonesia mencapai US$ 497,96 miliar, lebih besar dibandingkan Nigeria sebesar US$ 106,27 miliar dan Argentina US$ 72,94 miliar, yang berstatus standalone market.
Menurut Iding, Indonesia masih memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung klasifikasi emerging market, termasuk ukuran pasar, likuiditas, akses investor asing, serta kelancaran arus modal. Indonesia juga memiliki sembilan saham dalam MSCI Standard Index, melampaui persyaratan minimum tiga saham untuk kategori tersebut.
“Namun, transparansi kepemilikan dan kualitas data masih menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti dalam reformasi pasar,” kata dia.
