IHSG Ditutup Anjlok 3,64% ke 4.996, Seluruh Sektor Saham Berguguran
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10/2026), ditutup anjlok sebanyak 188,49 poin (3,64%) menjadi 4.996,61. Rentang pergerakan 4.907-5.185 dengan nilai transaksi Rp 19,41 triliun.
Pelemahan IHSG tersebut dipengaruhi atas berlanjutnya kejatuhan saham-saham big cap dimotori saham BBCA dengan penurunan hingga auto reject bawah (ARB). Penurunan juga melanda saham BREN, TPIA, BBRI, hingga AMMN.
Baca Juga
Jika Indonesia ke Standalone, Dana Asing Keluar Bisa Tembus US$19 Miliar
Penurunan tersebut sejalan dengan kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar turun 4,57%, sektor konsumer non primer turun 3,88%, sektor energi turun 2,95%, sektor industry melemah 2,97%, sektor konsumer primer melemah 4,09%, konsumer non primer turun 3,88%, infrastruktur jatuh 4,45%,kesehatan melemah 3,64%, property turun 2,75%, teknologi melemah 2,46%, keuangan melemah 2,18%, dan transportasi melemah 2,91%.
Meski anjlok sejumlah saham berikut catatkan lompatan harga, yaitu saham TMPO naik 28,03% menjadi Rp 169, TIFA menguat 25% menjadi Rp 360, PNSE menguat 25% menjadi Rp 480, TRUK naik 24,84% menjadi Rp 4.020, BSIM naik 24,83% menjadi Rp 930, BIKE menguat 22,62% menjadi Rp 5.150, dan BSWD naik 20% menjadi Rp 6.750.
Akhir pekan lalu, IHSG ditutup jatuh sebanyak 678,68 poin (11,57%) menjadi 5.185, bahkan BEI sempat terapkan trading halt selama 30 menit. Level tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober 2026 dan menjadi penurunan terbesar terhitung sejak krisis moneter tahun 1998. Pemodal asing berlomba-lomba keluar dari pasar saham Indonesia ditunjukkan dengan torehan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 3,34 triliun. Net sell terbanyak disumbangkan saham BBCA mencapai Rp 2,32 triliun dan BBRI mencapai Rp 1,14 triliun.
Baca Juga
OJK Soroti 8 Modal Ventura Belum Penuhi Ekuitas Minimum, IPO Jadi Opsi Exit Strategy
Penurunan ini juga sejalan dengan kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar anjlok 13,36%, sektor infrastruktur turun 13%, sektor kesehatan jatuh 13,16%, sektor industry melemah 11,89%, sektor energi turun 11,39%, sektor konsumer primer melemah 11,12%, sektor konsumer non primer anjlok 10,11%, sektor transportasi turun 10,91%, sektor property melemah 9,63%, sektor keuangan melemah 8,98%, dan sektor teknologi turun 8,88%.
Penurunan tajam IHSG sejalan dengan kejatuhan mayoritas saham big cap hingga auto reject bawah (ARB), seperti BBCA, BBRI, BREN, BMRI, TPIA, ASII, TLKM, dan MORA. Saham ASII dan DCII tidak terkena ARB. Sebaliknya saham BYAN justru menguat.
Adapun tiga saham berikut justru berhasil menguat dengan catatkan auto reject atas (ARA), seperti saham BSWD naik 25% menjadi Rp 5.625, ABDA melesat 24,93% menjadi Rp 4.710, dan TRUK naik 24,81% menjadi Rp 3.220. Lompatan juga melanda saham PTSP sebanyak 20,72% menjadi Rp 2.010.
