Dibandingkan Negara Lain, Begini Posisi Indonesia dalam Usulan Standalone Market MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Di tengah proses tersebut, perbandingan kondisi ekonomi, ukuran pasar, likuiditas, dan keterbukaan kepemilikan saham Indonesia dengan negara lain menjadi sorotan.
Mengutip data perbandingan klasifikasi pasar yang dirilis BEI, Indonesia yang saat ini diusulkan masuk kategori Standalone Market memiliki produk domestik bruto (PDB) sebesar 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Thailand sebesar 1,9%, Nigeria 4,43%, dan Argentina 2%, tetapi masih di bawah Malaysia sebesar 5,3% dan Vietnam sebesar 9,95%.
Berdasarkan inflasinya, Indonesia mencatatkan angka 3,28% secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar 1,9% dan Thailand 2,82%. Tetapi lebih rendah dibandingkan Vietnam sebesar 5,08%, Nigeria 14,63%, serta Argentina 33,4%.
Sementara itu, suku bunga acuan Indonesia berada di level 5,75%, lebih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar 2,75%, Thailand 1%, dan Vietnam 4,5%. Adapun Nigeria mencatatkan suku bunga acuan sebesar 23%.
Dari sisi kapitalisasi pasar, Indonesia memiliki nilai sebesar US$497,96 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar US$481,54 miliar, Vietnam US$384,96 miliar, Nigeria US$106,27 miliar, dan Argentina US$72,94 miliar. Namun, kapitalisasi pasar Indonesia masih berada di bawah Thailand yang mencapai US$581,81 miliar.
Baca Juga
Alarm MSCI Makin Keras, BEI-OJK Ditantang Buktikan Pengawasan Saham
Perbandingan Emerging dan Standalone Market
Dalam perbandingan karakteristik pasar, kategori Emerging Market memberikan akses kepada investor global untuk berinvestasi di pasar negara berkembang yang memenuhi kriteria MSCI.
Sementara itu, Standalone Market merupakan klasifikasi terpisah bagi pasar yang tidak masuk dalam kategori pasar maju, negara berkembang, maupun pasar perintis berdasarkan metodologi MSCI.
Infografik tersebut menyoroti perbedaan karakteristik kedua kategori dari sisi arus modal, valuta asing, kondisi bursa, dan perhatian MSCI. Pasar Standalone dicirikan dengan keterbatasan akses terhadap pasar internasional, sedangkan Indonesia masih memiliki arus modal yang relatif bebas keluar-masuk, cadangan devisa, serta bursa yang beroperasi secara normal.
Dari sisi cadangan devisa, Indonesia tercatat memiliki US$146,3 miliar. Sementara itu, dalam aspek pasar modal, Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk memperbaiki kualitas data dan transparansi kepemilikan saham yang menjadi perhatian MSCI.
MSCI sendiri mengelompokkan pasar berdasarkan sejumlah aspek, termasuk perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas bagi investor internasional. Dalam infografik tersebut, Indonesia memiliki sembilan saham dalam MSCI Standard Index, sedangkan persyaratan minimum yang ditampilkan adalah tiga saham.
Aspek aksesibilitas pasar, yang mencakup keterbukaan investasi asing, efisiensi operasional, serta ketersediaan instrumen dan data, juga menjadi bagian dari kerangka penilaian MSCI. Adapun transparansi kepemilikan saham menjadi salah satu aspek yang masih perlu diperbaiki melalui reformasi pasar modal.
MSCI sebelumnya menyampaikan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi di pasar Indonesia. Lembaga tersebut menilai reformasi yang telah diumumkan otoritas pasar modal masih membutuhkan implementasi yang konsisten serta bukti dampak nyata terhadap perbaikan pasar.
MSCI membuka periode penyampaian masukan dari pelaku pasar hingga 30 April 2027. Keputusan final mengenai usulan perubahan klasifikasi tersebut akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Baca Juga
Indikator Pasar Modal Indonesia
Di tengah usulan perubahan klasifikasi tersebut, indikator pasar modal Indonesia dalam infografik menunjukkan tekanan yang cukup besar sepanjang 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 5.185,11, terkoreksi 40,04% secara tahun berjalan atau year to date (ytd). Sementara itu, kapitalisasi pasar saham Indonesia mencapai Rp9.157 triliun, turun 42,22% secara ytd.
Di samping itu, nilai transaksi pasar saham tercatat sebesar Rp20.503 triliun, meningkat 13,83% secara ytd. Adapun investor asing membukukan net sell atau jual bersih sebesar Rp88,194 triliun sepanjang tahun berjalan.
Pergerakan indikator tersebut menjadi gambaran kondisi pasar modal Indonesia di tengah evaluasi MSCI terhadap aksesibilitas, transparansi, dan tata kelola pasar. Meski demikian, usulan perubahan klasifikasi tersebut masih dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final.
