Total (TOTL) Bidik Cuan dari Proyek Data Center, Target Harga Saham Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) memfokuskan bisnis kontruksi pusat data (data center) menjadi angin segar terhadap pertumbuhan kinerja keuangan dan saham emiten ini. Eksposur yang kuat tersebut membedakan perseroan dengan perusahaan konstruksi lainnya.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap prospek kinerja keuangan dan saham TOTL. Saham TOTL direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.900 berdasarkan metode discounted cash flow (DCF). Target harga tersebut mengindikasikan peluang penguatan lebih dari 30% dengan mengacu harga penutupan saham TOTL kemarin level Rp 1.455.
Saat ini, saham TOTL diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) sebesar 10 kali berdasarkan proyeksi laba 2026. Valuasi tersebut relatif sejalan dengan perusahaan konstruksi regional. Namun, TOTL diproyeksikan memiliki ROE sebesar 36,3% pada 2026, jauh di atas rata-rata perusahaan sejenis sebesar 15,2%. Perbedaan ini menjadi salah satu faktor yang mendukung rekomendasi beli.
Baca Juga
RI Incar Jadi 'Raja' Data Center ASEAN, AHY Ingatkan Ancaman Krisis Air
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, eksposur terhadap proyek pusat data, rekam jejak pengerjaan proyek, serta proyeksi pertumbuhan pendapatan dan laba menjadi penopang rekomendasi beli saham TOTL. Perseroan telah menyelesaikan 10 proyek pusat data sejak 2021 dan diperkirakan memiliki proyek dengan kapasitas sekitar 405 MW yang sedang dalam tahap pengerjaan.
“Rekam jejak tersebut menempatkan TOTL sebagai kontraktor domestik dengan eksposur proyek pusat data terbesar. Kerja sama operasi (joint operation/JO), terutama dengan Shimizu, juga membuka peluang bagi perusahaan untuk menangani proyek pusat data berskala lebih besar dengan lingkup pekerjaan yang lebih luas,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa pembangunan pusat data di Indonesia menjadi salah satu sumber peluang pertumbuhan TOTL. Total proyek pusat data yang direncanakan di Indonesia mencapai kapasitas 5,1 GW, terdiri atas proyek yang telah berkomitmen sebesar 1,4 GW dan proyek tahap awal sebesar 3,7 GW.
Baca Juga
Asosiasi Data Center Minta 4 Langkah agar Investasi Data Center Tak Macet
Meski demikian, peluang pasar yang dapat dijangkau TOTL terbatas pada pekerjaan struktur utama dan selubung bangunan (core and shell). Lingkup pekerjaan tersebut umumnya mencakup 15-20% dari total biaya konstruksi pusat data. Berdasarkan estimasi biaya konstruksi sebesar US$1,2 juta per MW atau sekitar Rp 22 miliar per MW, pasar yang dapat dijangkau TOTL dari proyek pusat data yang telah berkomitmen diperkirakan mencapai Rp 29,1 triliun.
“Jika proyek tahap awal turut diperhitungkan, potensi pasar yang dapat dijangkau perusahaan meningkat menjadi Rp 109,1 triliun. Besarnya potensi pasar tersebut memberikan peluang bagi TOTL untuk memperoleh kontrak baru dalam beberapa tahun mendatang. Namun, realisasi peluang itu akan bergantung pada perkembangan proyek dan kemampuan perusahaan menangani tambahan pekerjaan,” tulisnya.
Kerja Sama Shimizu
Selain itu, prospek kinerja keuangan dan target harga saham TOTL didukung joint operation (JO) dengan Shimizu. Kemitraan ini memungkinkan perusahaan memperluas lingkup pekerjaan hingga mencakup pekerjaan mekanikal dan elektrikal (mechanical and electrical/M&E), sekaligus membantu mengatasi keterbatasan sumber daya manusia.
Ke depan, porsi proyek pusat data yang dikerjakan melalui JO diperkirakan meningkat. Tren pembangunan kampus pusat data dengan kapasitas lebih besar dan kebutuhan daya yang lebih tinggi dinilai mendorong kebutuhan terhadap kerja sama tersebut. Peluang ini dapat memperbesar keterlibatan TOTL dalam proyek pusat data.
Baca Juga
DEN Ungkap Peluang RI Rebut Bisnis Data Center dari Singapura
Sejumlah faktor tersebu berpotensi mendongkrak pertumbuhan pendapatan dan laba bersih TOTL yang kuat selama 2026-2027. Per Juni 2026, nilai tender yang diikuti TOTL mencapai Rp 17,2 triliun dengan 34% di antaranya berasal dari proyek pusat data. Berdasarkan pipeline tersebut, perusahaan diperkirakan memperoleh kontrak baru sebesar Rp 4,8 triliun pada 2026.
Peningkatan kontrak tersebut diharapken mengerek naik pendapatan Total (TOTL) menjadi Rp 4,70 triliun tahun ini, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 3,90 triliun. Laba bersih perseroan juga diestimasi meningkat dari Rp 414 miliar menjadi Rp 508 miliar tahun ini.
