Saham BBCA Jatuh ke Bawah Rp 6.000 hingga Asing Ramai-Ramai Lepas, Mengapa Saham Ini Masih Dijagokan?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga Rp 5.950 memunculkan pertanyaan mengenai peluang pemulihannya. Di satu sisi, tekanan jual asing mencapai Rp 31 triliun sepanjang Januari-September 2026. Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas masih merekomendasikan beli dengan target harga Rp 8.600, ditopang keunggulan dana murah dan ketahanan margin bunga bersih.
Berdasarkan data TradingView, hingga penutupan perdagangan kemarin, harga saham BBCA telah anjlok 25,86% menjadi Rp 5.950 di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara year to date (ytd). Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Baca Juga
Saham BBNI tercatat turun 20,66% menjadi Rp 3.380, sedangkan BMRI melemah 20,99% menjadi Rp 4.010. Sementara itu, saham BBRI relatif lebih baik dengan penurunan 14,56% menjadi Rp 3.110. Tekanan terhadap saham BBCA juga tercermin dari besarnya aksi jual bersih (net sell) pemodal asing di pasar saham Indonesia. Sepanjang Januari-September 2026, BBCA mencatatkan net sell mencapai Rp 31 triliun, terbesar di antara saham bank KBMI IV.
Angka tersebut jauh melampaui net sell saham BBRI yang mencapai Rp 11,30 triliun. Adapun net sell saham BMRI tercatat sebesar Rp 14,01 triliun, sedangkan BBNI sebesar Rp 3,57 triliun. Besarnya aksi jual asing tersebut membuat BBCA menjadi salah satu saham yang paling tertekan di tengah arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.
Dari total net sell saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 81,03 triliun sepanjang Januari-September 2026, sekitar 38,27% berasal dari saham BBCA. Dengan kata lain, hampir empat dari setiap Rp 10 penjualan bersih saham oleh pemodal asing di BEI selama periode tersebut berasal dari saham BBCA.
Tekanan jual saham BBCA disertai dengan net sell jumbo juga dipengaruhi bergulirnya isu akuisisi bank yang dikendalikan keuarga Hartono, pemilik Djarum ini, oleh Haji Isam. Meski demikian pada 25 September 2026, BCA membantah informasi mengenai rencana akuisisi oleh Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Masih Ada Peluang?
Lalu, apakah masih ada peluang penguatan? BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa prospek saham BBCA dinilai tetap menarik di tengah tekanan likuiditas dan meningkatnya biaya dana (cost of fund/CoF) yang membayangi industri perbankan Indonesia. Kekuatan dana murah atau current account and savings account (CASA) menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek kinerja dan daya tahan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BBCA.
Analis BRI Danareksa Sekurtias Nataniella Eva Kezia dan Victor Stefano dalam riset terkait saham bank menyebutkan bahwa BBCA memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah bank lainnya berkat basis nasabah transaksional yang kuat. Keunggulan tersebut tercermin dari kemampuan perseroan mempertahankan porsi dana tabungan (savings account/SA) di sekitar 50% selama lima tahun terakhir, sekaligus mengurangi ketergantungan pada deposito berjangka (time deposit/TD). “Struktur pendanaan tersebut menjadi modal penting bagi BBCA untuk menghadapi peningkatan biaya dana dan menjaga NIM di tengah persaingan penghimpunan dana perbankan yang semakin ketat,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Selama lima tahun terakhir, BBCA mampu mempertahankan rasio SA di kisaran 50% dan menekan porsi deposito berjangka. Hal ini mencerminkan kekuatan bisnis transaksional perseroan dalam menjaga stabilitas basis pendanaan. Kemampuan BBCA dalam mempertahankan porsi dana tabungan yang tinggi menjadi salah satu faktor pendukung prospek NIM. Basis pendanaan yang kuat juga memberikan keunggulan dalam menghadapi persaingan suku bunga simpanan.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA, bahkan saham ini ditetapkan sebagai pilihan utama di atantara saham bank lainnya. Saham BBCA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 8.600 atau terbuka peluang penguatan lebih dari 44%.
