IHSG Anjlok Parah ke Level Terendah dalam 3 Bulan, Seberapa Besar Peluang Rebound?
JAKARTA, investortrust.id – Pasar ekuitas kembali kehilangan tenaga pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan jual pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, pelemahan indeks mencerminkan tingginya sikap kehati-hatian investor. Hal ini terjadi di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membayangi pergerakan pasar saham.
Baca Juga
IHSG Ditutup Jatuh 2,59% ke Level Terendah dalam Tiga Bulan Terakhir, Semua Sektor Saham Anjlok
Dia merinci, koreksi IHSG yang mencapai sekitar 2,6% ke kisaran level 5.930 dipengaruhi tekanan jual yang juga mencakup kekhawatiran pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian politik, dan ekonomi di dalam negeri.
Dari sisi sektoral, Nafan menyebut, investor perlu mencermati pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan saham-saham konglomerasi. Pasalnya, saham-saham ini memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG, sehingga tekanan jual pada kelompok saham tersebut dapat menyeret indeks lebih dalam.
“Namun, peluang technical rebound tetap terbuka apabila muncul aksi bargain hunting, sehingga investor sebaiknya mencermati perkembangan nilai transaksi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta dinamika investor asing,” jelasnya, melalui pesan singkat, Senin (12/10/2026).
Mengutip datai RTI Business, IHSG tercatat berada di level 5.936,147, turun 157,612 poin atau 2,59% pada perdagangan hari ini. Padahal pada pembukaan, IHSG sempat menguatke level 6.109,319 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.128,723, sebelum bergerak turun hingga menyentuh level terendah 5.917,390.
Baca Juga
Penjualan Mobil Astra Tembus 334.987 Unit hingga September 2026
Saham-saham big cap, seperti DSSA jatuh 14,60% menjadi Rp 965, BREN jatuh 11,48% menjadi Rp 2.390, TPIA jatuh 10,15% menjadi Rp 1.505, BBCA jatuh 1,65% ke level terendah baru dalam tiga bulan terakhir Rp 5.950. Penuruan tajam juga melanda saham BYAN, MORA, SINI, JARR, TINS, hingga INDY.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 61,772 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,394 triliun dengan frekuensi sebanyak 1.867.392 kali.
Sementara itu, harga 602 saham terkoreksi, jauh lebih banyak dibandingkan 114 saham yang menguat, dengan 77 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Data pun memperlihatkan, tekanan jual berlangsung cukup luas di pasar saham domestik.
