IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi ke 5.850, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi melanjutkan koreksi menuju level 5.850–5.911 apabila gagal mempertahankan momentum penguatan dan menembus ke bawah level support 5.973. Di sisi lain, IHSG masih memiliki peluang rebound menuju area 6.227–6.231 pada perdagangan pekan 12–16 Oktober 2026 jika skenario bullish terwujud.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari, menjelaskan bahwa pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi dengan rentang 6.000–6.215. “Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai,” jelas Brigita pada Senin (12/10/2026).
Untuk jangka pendek, area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati, dengan support terdekat di 6.018. Brigita menambahkan, penembusan resistance di kisaran 6.215 berpotensi membuka ruang penguatan IHSG menuju 6.297. Sebaliknya, pelemahan di bawah support 5.973 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan.
Baca Juga
IHSG Jatuh Makin Dalam Sentuh 2,41%, Sektor Energi Turun Dalam
Tekanan terhadap IHSG kembali terlihat pada perdagangan Senin (12/10/2026). Hingga penutupan sesi I, indeks terkoreksi 2,37% ke level 5.949,77, berada di bawah level support 5.973 yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Pergerakan indeks juga akan dipengaruhi proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia menjadi 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 akibat meningkatnya impor energi menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.
Kombinasi kebutuhan impor energi dan tingginya yield obligasi AS berpotensi meningkatkan sensitivitas rupiah dan arus dana asing terhadap perubahan sentimen global. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 tercatat sebesar 118,1 dan masih berada di zona optimistis. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah dari 109,4 menjadi 107,5, mengindikasikan moderasi persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Brigita menegaskan, perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung.
Baca Juga
IHSG Terjun 1,94% ke 5.975 di Sesi I, Ini Sejumlah Faktor Pemicunya
Di sisi lain, sejumlah faktor masih menjadi penyangga stabilitas domestik. Faktor tersebut meliputi cadangan devisa sebesar US$ 146,3 miliar atau setara 5,3 bulan impor, status Indonesia yang dipertahankan FTSE Russell sebagai Secondary Emerging Market, serta defisit APBN hingga September 2026 sebesar 1,24% PDB dengan keseimbangan primer surplus.
Pemerintah juga berupaya menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian belanja.
Selain itu, Danantara menyatakan terbuka untuk menambah investasi ketika valuasi saham dinilai menarik. Dengan portofolio saham dan obligasi sekitar US$ 3 miliar serta rencana tambahan investasi US$ 1 miliar hingga akhir 2026, pendekatan berbasis valuasi dan due diligence berpotensi mendukung permintaan saham domestik.
Namun, efektivitas investasi tersebut terhadap arus dana pasar secara keseluruhan tetap bergantung pada realisasi investasi dan kondisi likuiditas.
Saham Pilihan
Terkait saham pilihan pekan ini, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk perdagangan pekan 12–16 Oktober 2026, yakni EMAS, ICBP, dan BBTN.
1. EMAS – Buy
Area masuk (entry): Rp 7.950–8.075
Target harga (target price): Rp 8.700
Batas kerugian (stop loss): Rp 7.625
Secara teknikal, saham EMAS menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah bergerak di atas MA5 hingga MA50. Indikator trade flow juga mengindikasikan akumulasi oleh smart money dan investor asing.
2. ICBP – Buy
Area masuk (entry): Rp 6.950
Target harga (target price): Rp 7.400
Batas kerugian (stop loss): Rp 6.825
ICBP mengonfirmasi sinyal rebound dengan membentuk pola bullish marubozu. Tren jangka pendek juga diperkuat oleh posisi harga yang kembali bergerak di atas MA5 hingga MA20.
3. BBTN – Buy
Area masuk (entry): Rp 1.070
Target harga (target price): Rp 1.120
Batas kerugian (stop loss): Rp 1.050
Saham BBTN menunjukkan potensi pembalikan arah atau reversal dari area bottoming yang cukup kuat di level Rp 1.050. Sinyal awal pembalikan arah tersebut didukung indikator MACD yang mulai membentuk pola golden cross. Selain itu, indikator trade flow menunjukkan akumulasi smart money sebesar Rp 16,8 miliar secara kumulatif.
4. XGLD – Buy
Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD) dinilai menawarkan alternatif investasi bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa tanpa harus membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung.
Dengan karakteristik yang sesuai prinsip syariah, XGLD dapat menjadi pilihan diversifikasi portofolio sekaligus sarana memanfaatkan potensi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan volatilitas pasar.
Dengan demikian, arah IHSG pada pekan ini akan bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan area support 5.973 serta menembus resistance 6.215. Kegagalan bertahan di atas support tersebut membuka risiko koreksi menuju 5.850–5.911, sedangkan keberhasilan menembus resistance dapat membuka peluang penguatan menuju 6.297.
